
Saat saya ngopi cantik dengan seorang teman saya Claudia, saya bisa membaca raut wajah teman saya ini sedang ada masalah tapi hebatnya ia tetap fokus dengan pembahasan bisnis yang sedang kami bicarakan berdua sambil ngopi. Tiba – tiba saya melihat handphone nya ringing dan nama yang terlihat di screen hp adalah “My love”.
Claudia minta izin untuk angkat telp dan saya melanjutkan untuk menikmati jus jeruk yang saya pesan. Saya melihat dari arah belakang, karena ia mengangkat telp membelakangi saya, Claudia terlihat sangat marah, saya bisa lihat dari gerak tangan dan bafannya. Saat Claudia balik badan ia berteriak dengan sangat emosional mengatakan “tidak pantas kamu perlakukan ini terhadap saya!” lalu menutup pembicaraan dengan menekan tombol hp dengan sedikit keras.
Claudia kembali ke maja dan melihat saya sambil mengangkat kedua pundaknya. Saya hanya diam dan melempar senyum sambil mendengar Claudia mengatakan masih dengan emosional, bahwa suaminya ini banyak mengecewakan dia dan ekonomi keluarga yang sedang tidak baik, akhirnya teman saya closing dengan mengatakan “Ok, Mel maaf yah yuk kita lanjutkan lagi pembahasan kita”.
I’ve been there!!, saya pernah rasakan ini kurang lebih 30 tahun lalu saat saya usia 20 tahun, saya marah sekali kepada kekasih saya saat itu. Tapi saya banyak melakukan self-reflection sampai akhirnya saya menyadari bahwa ternyata pernikahan itu bukan tentang diri saya sendiri tapi tentang orang lain dan orang banyak.
Setiap masalah yang terjadi dalam pernikahan dibutuhkan dua orang yang mau berubah dan selaras berjalan bersama untuk berkomitment dilandaskan sebuah kasih dalam setiap perjalanan untuk mencapai perubahan itu. Jika hanya satu orang yang menuntut perubahan pastinya tidak akan terjadi sebuah perubahan yang hakiki dalam berpasangan.
Sampling : Seorang ibu bilang kepada suaminya, kamu jangan lakukan A saya tidak suka, tapi sang ibu tidak memberikan kebutuhan A itu pada suami nya.
Pernikahan adalah landasan ideal sebuah keluarga maka menikah bukanlah karena adanya sebuah alasan, motivasi atau suatu kepentingan diri seperti harus punya anak, harus ngikutin maunya orang tua, untuk harta, atau untuk sebuah kebahagiaan dan kebutuhan kita akan selalu terpenuhi dengan menikah. Tapi sebaliknya bagaimana kita merespon jika sebaliknya dalam pernikahan mendapatkan situasi atau kondisi yang sepertinya tidak pantas, tidak seharusnya atau terkadang situasi sangat sulit melanda dan hubungan mengalami cobaan. Sebagai perempuan kita harus bijaksana untuk me-refleksikan diri, apakah kita benar – benar tidak pantas menerima itu semua atau justru kita dipantaskan oleh Allah untuk menerima sebuah masalah agar kita bisa melihat dari masalah yang ada justru kita akan mendapatkan dan merasakan arti dari sebuah makna kehidupan dan hikmah yang dapat kita pelajari.

Selama saya hidup mengalami masalah yang beraneka ragam dan mendengar keluh kesah dari teman – teman atau keluarga. Saya mengamati, mencerna dan merenungkan bahwa semua yang terjadi dalam hubungan pernikahan itu adalah ego. Ego kita yang harus ditekan serendah – rendahnya agar bisa memulai masuk dan menciptakan hubungan yang sehat. Hubungan yang sehat memiliki dasar prinsip komitment yaitu prinsip 4M.
Dimulai dari MEMAHAMI, bagaimana kita bisa memahami dengan hati, salah satu cara untuk kita bisa memahami adalah dengan lebih sering mendengarkan pasangan berbicara tanpa kita langsung interupsi dulu. Mendengar tanpa menilai terlalu cepat adalah cara kita memahami sudut pandang pasangan sepenuhnya, karena setiap individu pastinya memiliki sudut pandang berbeda – beda. Jadi dengarkan, cerna, amati dan pahami.
Saat kita bisa mendengar pasangan dengan tidak interupsi atau menilai terlalu cepat itu artinya kita sedang MENGHORMATI pasangan. Dalam cerita atau pembicaraan pasangan, tidak sedikit yang kadang biasanya kita tidak setuju. Tetapi dalam hal ini kita harus membiasakan belajar berusaha untuk “setuju dulu dengan ketidak setujuan kita”, kita belajar untuk tidak langsung menegur atau mengajarkan bagaimana sebenarnya yang benar pada pasangan, karena jika kita langsung menegur artinya kita menjatuhkan harga diri pasangan. Perlakuan kita untuk tidak menegur pasangan saat ia berbicara, menegur didepan orang jika ia salah, bertengkar didepan anak – anak, mengumbar kekurangan pasangan di media sosial, cara – cara ini adalah konsep kita MENERIMA pasangan dengan segala kekurangannya. Menerima pasangan dengan tulus dan Ikhlas, semua kekurangan pasangan cukup kita yang mengetahui dan bersama – sama memperbaiki hubungan dengan benar, jika bersama – sama memiliki pengertian dan mau melakukan 3 konsep prinsip diatas yaitu memahami, menghormati, menghargai, maka dari semua ini kita dapat menjalani konsep prinsip yang keempat yaitu hubungan yang saling MENGHARGAI.

“Ingin mengetahui ISI PIKIRAN pasangan kita dengarkan kata – katanya, ingin mengetahui ISI HATI pasangan kita, perhatikan Tindakan nya.”
Cinta adalah kekuatan, lebih besar daripada segala hal lainnya. Cinta tidak menyakiti dan menilai, cinta dapat mengatasi perbedaan, kesalahan, dan kesulitan dalam hidup karena esensi dari cinta adalah berkorban. Meskipun hubungan atau situasi dapat mengalami kegagalan sementara, cinta sejati tidak akan pernah benar-benar gagal. Sebaliknya, cinta akan terus berusaha tumbuh dan bertahan – Unconditional love.
Jika kita bicara unconditional love dibenak kita pasti ini bicara tentang pengorbanan, dimana kalau kita bicara keluarga pasti didalamnya penuh dengan pengorbanan, kita pasti sering yah melihat kontent tentang hubungan pernikahan yang seliweran di sosial media, sebut saja tik tok atau IG yang mengatakan “pernikahan itu 70% isinya adalah tentang ngobrol.” Tidak ada yang salah dari kalimat itu tapi ngobrol sehari – haripun butuh pengorbanan bukan, pengorbanan apa ? jawabannya adalah pengorbanan untuk menurunkan ego ! jadi pastinya pengorbananlah yang pertama harus kita perjuangkan.
Dalam pernikahan pasti masing – masing mengemban tugas yang namanya “berkorban”, pasti kedua nya berkorban, keduanya bekerja atau yistri dirumah mengurus rumah tangga dan suami bekerja diluar, tidak ada yang berkorban sendirian. Hanya kadang masing masing melihat sepertinya “saya berkorban dan kamu tidak”, padahal keduanya pasti berkorban, hanya ego yang tinggi yang bilang “”saya berkorban dan kamu tidak”

“Meminta maaf untuk membebaskan kita, bukan membebaskan orang lain, tidak mudah untuk yang belum terbiasa tapi bisa untuk yang mau mulai mencoba”
Meminta maaf juga adalah sebuah pengorbanan, jika pasanganmu melakukan kesalahan maafkan, jika kita yang melakukan kesalahan mintalah maaf, saya tahu tidak mudah buat kamu yang belum terbiasa, tapi saya percaya pasti bisa untuk yang kamu yang mau berkorban untuk mencoba.
Terimakasih sudah membaca dan tidak pernah ada kata terlambat untuk mencoba serta memperbaiki hubunganmu bersama pasangan.
Setiap perempuan memiliki cerita untuk diceritakan, dan setiap cerita memiliki kekuatan untuk menginspirasi serta mengangkat orang lain. Saya percaya jika kamu membagikan pikiran positif atau cerita pendek tentangmu di kolom koment, kamu akan membantu banyak perempuan – perempuan di Indonesia, dan lihat bagaimana cerita singkatmu dapat mengubah perempuan dan dunia.
Aku mencintaimu semua perempuan Indonesia
Leave a comment