Family oriented – Mindset Perempuan

“The greatest act of love is to bring each other closer to Allah”

“Pernikahan itu indah jika kamu menemukan pasangan yang tepat, jika tidak.. kamu akan merasa selalu di situasi seperti Covid – 19.
..”Setiap hari kasus baru!”

  • Mengapa Korban KDRT Selalu Terlihat “Bertahan”?

    Perspektif Psikologi, Hukum, dan Cara Keluar dari hubungan yang toxic dengan Aman

    Belajar dari Kasus Norman Tarigan dan Jessica yang ramai dibicarakan publik dan banyak pertanyaan datang kepada saya.

    “Kenapa dia masih bertahan padahal sudah mengalami kekerasan bertahun-tahun dari pacarnya ini?”

    Dari luar, jawaban terasa sederhana: “Ya harusnya kan putusin dan pergi saja.”

    Namun dari dalam diri korban situasinya jauh lebih kompleks. Hubungan yang penuh kekerasan bukan hanya persoalan cinta yang salah tempat. Ia adalah kombinasi antara dinamika psikologis, manipulasi emosional, ketergantungan, dan ketakutan yang perlahan membentuk “mode bertahan” pada diri korban.

    Dalam hubungan yang abusif, yang mengikat diri korban bukan hanya tentang cinta. Tapi ada fenomena psikologis yang disebut trauma bonding atau ikatan emosional kuat yang terbentuk dari lingkaran setan atau siklus dimana pelau banyak menyakiti lalu memperbaiki.

    Pola ini biasanya berulang mulai dari:

    • Ketegangan dalam hubungan meningkat bahkan karena hal – hal sepele yang membuat korban kebingungan.
    • Terjadi kekerasan (fisik atau psikis) saat ketegangan terjadi.
    • Pelaku meminta maaf setelah terjadinya kekerasan bahkan memberikan kenyamanan dalam berbagai bentuk kepada korban.
    • Pelaku menjadi lembut dan bahkan kadang menjadi penuh perhatian

    Akhirnya korban memaafkan dan kembali memiliki harapan, namun Siklus ini manjadi pola berulang dan terus membuat sebuah harapan dalam diri korban, akhirnya harapan inilah yang membuat korban mau terus bertahan dan melindungi hubungan.

    Secara neurologis, ketika seseorang mengalami rasa sakit lalu tiba-tiba mendapatkan kasih sayang, otak melepaskan hormon dopamin dan oksitosin. Sensasi “perasaan nyaman dan lega” setelah disakiti terasa sangat kuat, korban seperti mendapatkan “hadiah emosional” dari pelaku. Dan dari situlah ketergantungan mulai terbentuk.

    Psikolog klinis Amerika, Patrick J. Carnes, Ph.D., yang mempopulerkan istilah trauma bonding pada awal 1990-an, menjelaskan:

    “Trauma bonding membuat korban lebih terikat pada pelaku, justru setelah kekerasan terjadi.” — Patrick J. Carnes, PhD

    Korban bukan bertahan karena lemah, tapi bertahan karena berharap. Harapan bahwa pelaku benar-benar bisa berubah dan hubungan mereka berhasil dengan happy ending. Harapan dimana menurut korban bahwa versi lembut dan kasih sayang itu adalah versi yang “asli”. Korban berharap bahwa cintanya cukup untuk memperbaiki semuanya.

    Banyak orang mengira KDRT dimulai dengan tamparan, tendangan atau pukulan.

    Faktanya, sering kali ia dimulai dari hubungan yang dimulai dari cara yang tidak sehat yaitu memgontrol pasangan atau korban dengan banyak caranya, seperti contohnya:

    • Cemburu berlebihan yang dibungkus alasan karena pasangan “sayang dan cinta” tidak ingin kehilangan.
    • Mengontrol pakaian, pergaulan, aktivitas
    • Mudah marah dan menyalahkan pasangan.
    • Tidak mampu meminta maaf secara tulus, menunggu orang lain yang minta maaf.
    • Gaslighting atau memutarbalikkan fakta hingga korban meragukan dirinya sendiri

    Gaslighting membuat korban kehilangan pijakan realitas yang perlahan – lahan harga diri korban menjadi runtuh. Dan korban mulai percaya bahwa dirinya adalah penyebab dari segala masalah ini dan tidak sedikit mereka mengurung diri atau sebaliknya menjadi liar.

    Jika sejak pacaran seseorang sudah mulai:

    • Selalu memiliki ketakutan atau apa yang ia lakukan akan membuat pasangannya marah
    • Selalu merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi dan mengakibatkan ketegangan.
    • Atau banyak silent treatment karena lebih baik memilih mengalah demi menghindari konflik
    • Dan merasa kehilangan jati diri atau sepwryi bukan dirinya lagi yang seutuhnya.

    Pastikan itu bukan cinta yang sehat tapi itu adalah sebuah pola kontrol. Hubungan yang sehat tidak membuat seseorang hidup seperti berjalan di atas telur setiap hari.

    Dan mengapa Pergi dari hubungan yang toxic seperti ini Terasa Lebih Menakutkan untuk korban?

    Ketika kekerasan terjadi berulang dan harga diri sudah terkikis, korban bisa mengalami kondisi yang disebut learned helplessness, ini adalah keadaan psikologis di mana seseorang merasa tidak berdaya karena terlalu lama berada dalam tekanan.

    Korban mulai berpikir:

    • “Saya tidak cukup baik.”
    • “Saya tidak pantas dicintai orang lain.”
    • “Tidak ada yang mau menerima saya.”
    • “Dan Saya tidak bisa hidup sendiri.” Maka aaya harus pertahankan dengan pasangan yang ada.

    Bertahan memang menyakitkan, tetapi bagi korban, pergi akan terasa lebih menakutkan.

    Dalam perspektif Hukum di Indonesia, kekerasan dalam hubungan bukan hanya persoalan moral, tapi ini adalah sebuah pelanggaran hukum.

    Di Indonesia, KDRT sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).

    Beberapa poin penting jika kamu merasa menjadi korban, jangan pernah takut untuk speak up karena pada:

    • Pasal 5: Melarang kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran dalam lingkup rumah tangga.
    • Pasal 44: Kekerasan fisik dapat dipidana hingga 5 tahun penjara (lebih berat jika menyebabkan luka berat atau kematian).

    Kekerasan psikis juga dapat dipidana jika menimbulkan penderitaan mental. Walaupun istilah KDRT fokus pada relasi rumah tangga, namun kekerasan dalam relasi pacaran juga dapat dijerat pasal penganiayaan dalam KUHP dan aturan pidana lainnya.

    Artinya bahwa kekerasan bukan merupakan “urusan pribadi” ini adalah pelanggaran hukum.

    Bagaimana Cara Keluar dari Hubungan Penuh Kekerasan?

    Keluar dari hubungan abusif bukan soal keberanian semata tapi membutuhkan strategi dan dukungan pihak yang dapat dipercaya dalam keluarga atau lingkungan serta memiliki poin – poin penting:

    • Mindset Sadar
      Akui bahwa kekerasan adalah kekerasan. Jangan mengecilkan atau membenarkannya.
    • Bangun Dukungan
      Berbicara kepada teman terpercaya, keluarga, konselor, atau psikolog. Isolasi adalah alat kontrol pelaku.
    • Simpan Bukti
      Dokumentasikan pesan, rekaman, foto luka, atau saksi jika suatu hari diperlukan untuk proses hukum.
    • Buat Safety Plan
      Tentukan tempat aman, keluar tidak harus dramatis namun keluarlah dengan rasa aman.

    Pesan untuk Perempuan Indonesia:

    “Empati adalah kekuatan, tetapi empati tanpa batas dapat melukai diri sendiri.”

    Cinta yang sehat adalah tempat yang bisa memberi rasa aman, menghormati batas dan tidak meruntuhkan harga diri.

    Jika sebuah hubungan membuatmu kehilangan nilai dirimu, itu bukan cinta yang harus diperjuangkan, itu hanya pola yang harus dihentikan.

    “Cinta tidak pernah menuntutmu untuk kehilangan dirimu sendiri.”

    Kamu berharga, kamu bermartabat, dan tidak ada cinta yang layak dibayar dengan rasa takut.

  •  

    Refleksi Psikologis atas Tragedi Nizam Syafei

    Kepergian Nizam Syafei (NS), anak 12 tahun yang diduga dipaksa minum air panas oleh ibu tirinya hingga mengalami pembengkakan pada organ vitalnya, bukan sekadar berita kriminal saja tapi juga adalah cermin sosial. Cermin yang memantulkan pertanyaan yang lebih dalamapakah setiap orang yang cukup usia benar – benar siap menjadi orang tua?

    Tragedi ini tidak berdiri sendiri, tragedi seperti ini berakar pada persoalan yang tidak terlihat namun sangat berbahaya, kegagalan orang dewasa mengelola emosi dan luka batin mereka sendiri sehingga siapapun bisa menjadi korbannya.

    Orang Tua Bukan Soal Usia, Tapi Kematangan Psikologis

    Masyarakat kita masih memandang menjadi orang tua sebagai fase otomatis dalam siklus kehidupan, jika sudah cukup usiamaka seseorang dianggap siap menikah dan boleh mengasuhPadahal, secara psikologis, menjadi orang tua menuntut kapasitas yang jauh lebih kompleks salah satunya adalah menuntut calon orang tua memiliki kecerdasan emosi.

    Kecerdasan emosi bukan sekadar mampu menahan marah saja, tapi mencakup kemampuan untuk dapat: 

    • Mengenali luka emosiaonal masa kecil, masa lalu dan mengenali emosi diri tanpa menyangkalnya
    • Mengelola dorongan sifat yang agresif atau impulsif serta tidak manipulatif
    • Memiliki empati pada pengalaman emosional anak – anak
    • Mengambil tanggung jawab tanpa defensif
    • Mampu bertanggung jawab pada kesalahan dan mampu berkata untuk meminta maaf tanpa merasa kehilangan harga diri

    Tanpa kapasitas ini, relasi orang tua dan anak berpotensi berubah menjadi relasi kuasa atau kontrol yang sangat kuat,bukan relasi kasih antara orang tua dan anak.

    Ketika Empati Tidak Berkembang

    Dalam psikologi perkembangan, empati bukan sifat bawaan yang muncul otomatis atau (Nature) tapi semua itu dibentuk oleh pengalaman relasi yang aman dan penuh validasi sejak kecil, pengalaman belajar melalui akademik maupun kehidupan (Nurture)

    Individu yang tumbuh dalam pola asuh keras, manipulatif, atau penuh kritik kronis yang sangat destruktif, sering kali mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Mereka belajar bertahan, bukan belajar merasakan, emosi ditekan, bukan dipahami. Maka banyak sekali dari ledakan emosi pada akhirnya menimbulkan korban dan pelaku dalam mode pertahanan yang sangat manipulatif. 

    Akibatnya, saat menjadi orang tua, mereka mungkin:

    • Kesulitan memahami perasaan anak
    • Melihat tangisan sebagai kelemahan
    • Melihat ketenangan dan kedamaian adalah hal yang tidak dapat memuaskan ego 
    • Menganggap perlawanan kecil sebagai ancaman terhadap otoritas
    • Merespons stres dengan kontrol berlebihan

    Ketika tekanan hidup datang, anak menjadi objek paling mudah untuk dilampiaskan. Bukan karena anak penyebabnya, tetapi karena anak adalah pihak yang paling lemah dalam struktur kekuasaan keluarga.

    Pola Narsistik dalam Pengasuhan

    Dalam konteks klinis, terdapat pola kepribadian yang disebut sebagai narsistik. Gangguan ini ditandai oleh kebutuhan akan kontrol, pengakuan, rasa superioritas, dan rendahnya empati pada orang lain. Namun perlu dan sangat penting ditegaskan bahwa tidak semua perilaku egois adalah gangguan kepribadian. Diagnosis hanya dapat dilakukan oleh profesional, Maka kita tidak dibenarkan untuk memberikan penilaian begitu saja pada pelaku. Namun pola narsistik dalam pengasuhan dapat terlihat dari ciri-cirinya seperti:

    • Tidak pernah merasa salah
    • Sulit atau tidak pernah meminta maaf
    • Memanipulasi narasi agar selalu menjadi korban
    • Menggunakan materi atau uang sebagai alat kontrol
    • Menganggap anak sebagai perpanjangan ego, bukan individu yang otonom
    • Tidak terlihat kasih dari mata dan gerak tubuhnya

    Dalam relasi seperti ini, anak tidak dipandang sebagai pribadi memiliki kebutuhan emosional. Anak dipandang sebagai objek yang harus patuh, taat, tidak boleh membangkang, ikuti peraturan dan harus mengangkat citra orang tua atau memenuhi ekspektasi orang tua. 

    Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi secara jangka panjang, anak bisa tumbuh dengan:

    • Harga diri yang rapuh
    • Rasa bersalah kronis
    • Ketakutan terhadap otoritas
    • Kebingungan dalam memahami makna cinta

    Anak belajar bahwa kasih sayang datang bersamaan dengan rasa takut dan tidak nyaman, kadang anak merasa bahwa cinta dan kasih sayang itu adalah mengontrol. 

    Trauma yang Tidak Disadari, Kekerasan yang Dibiasakan

    Banyak orang tua yang tanpa sadar mengulang pola pengasuhan yang mereka alami dulu saat bersama orang tuanya, Kalimatseperti, “Saya dulu juga diperlakukan seperti itu dan baik-baik saja sampai sekarang”, sering menjadi pembenaran.

    Padahal, secara psikologis, bertahan bukan berarti sembuh, trauma yang tidak diproses cenderung diwariskan kepada anak – anak. Inilah yang dikenal sebagai siklus trauma lintas generasi, luka yang tidak diakui akan berubah menjadi kekerasan yang dinormalisasi. Namun, pengalaman masa lalu bukanlah legitimasi untuk melukai masa depan anak.

    Seruan untuk Refleksi Kolektif

    Tragedi seperti yang menimpa Nizam Syafei (NS) seharusnya tidak berhenti pada simpati dan kemarahan publik tapi seharusnya ini dapat mendorong refleksi kolektif.

    Sebelum memutuskan menikah atau memiliki anak, pertanyaan yang lebih penting bukanlah Apakah saya sudah cukup umur?” melainkan:

    • Apakah saya mampu mengelola emosi saya saat tertekan ?
    • Apakah saya bisa menerima kesalahan tanpa merasa harga diri saya hancur?
    • Apakah saya mampu mencintai tanpa mengontrol?

    Menjadi orang tua bukan hak otomatis saja, tapi juga adalah tanggung jawab psikologis yang menuntut kedewasaan emosional. Jika kita belum menyembuhkan luka kita sendiri, kita berisiko menjadikan anak sebagai ruang pelampiasan. Dan anak tidak pernah pantas menjadi tempat pelarian dari trauma orang dewasa.

    RIP Nizam Syafei (NS).
    Semoga tidak ada lagi anak yang harus membayar harga dari ketidakdewasaan emosional orang dewasa di sekitarnya.

     

  • Menjaga pikiran dan emosi, dasar dari “Kesehatan Mental dan Relasi Sehat

    Mella Noviani


    “Jangan banyak pikiran.”
    Kalimat ini sering terdengar sederhana, namun dalam psikologi modern, ia menyimpan makna yang dalam. Pikiran yang tidak terkelola dengan baik berkontribusi besar terhadap stres kronis, ketegangan emosional, dan berbagai gangguan psikosomatis. Masalahnya bukan pada berpikir, melainkan pada bagaimana kita memproses pikiran tersebut.


    Emosi seperti marah, sedih, kecewa, cemas, atau kesal tidak muncul begitu saja, emosi adalah respons terhadap interpretasi pikiran. Pikiran membentuk emosi, emosi memengaruhi perilaku, dan perilaku secara konsisten membentuk kualitas hidup serta hubungan.
    Dalam konteks pernikahan, sumber stres emosional paling sering berasal dari relasi dengan pasangan. Ekspektasi yang tidak terpenuhi, perbedaan nilai, atau pola komunikasi yang tidak efektif. Ketika emosi tidak diregulasi, sistem saraf berada dalam kondisi reaktif. Akibatnya, seseorang lebih mudah tersulut, defensif, atau menarik diri.
    Sangat penting untuk dapat meregulasi emosi dan kesadaran diri, ketika seseorang mampu memperlambat respons seperti diam sejenak, bernapas panjang atau olah napas, dan mengamati pikirannya, maka ia sedang memberi ruang bagi otak rasional untuk bekerja. Dari sinilah lahir respons yang lebih konstruktif, bukan reaksi impulsif.


    Mengungkapkan emosi adalah hal yang sehat. Namun membiarkan emosi negatif menguasai diri dalam jangka panjang justru merugikan tubuh dan pikiran. Oleh karena itu, menjaga pikiran bukan berarti menekan perasaan, melainkan mengelolanya dengan sadar.
    Lingkungan emosional yang stabil berdampak menular. Ketika seseorang lebih tenang dan sadar, pasangan dan orang-orang di sekitarnya cenderung ikut merespons dengan lebih positif. Inilah yang dalam psikologi disebut emotional contagion emosi menyebar melalui interaksi.
    Ketika pasangan tidak sesuai harapan, banyak orang mencoba mengubahnya melalui nasihat, kritik, atau tuntutan. Namun penelitian psikologi menunjukkan bahwa perubahan perilaku lebih efektif melalui modeling, bukan dengan tekanan. Sikap rendah hati, konsistensi perilaku positif, serta penggunaan bahasa yang menghargai seperti kata maaf, tolong, dan terima kasih akan membangun iklim emosional yang aman dan mendorong perubahan orang lain secara alami.

    “Perubahan relasi jarang dimulai dari kata-kata yang keras, tetapi dari emosi yang stabil dan perilaku yang konsisten.”

    Contoh kalimat – kalimat yang bisa membuat pasangan kamu sangat merasa dihargai, walau kalimat itu adalah sebuah kritik untuknya, tapi yang kamu lontarkan adalah kritik yang bukan destruktif melainkan kritik yang konstruktif atau kritik yang membangun, seperti :

    • Saya minta maaf yah, tadi saya salah dan buat kamu tersinggung, saya akan perbaiki. Dan saya minta tolong juga yah, next time saya minta bantuan kamu yah untuk tidak seperti tadi, kamu bisa bicara dengan saya berdua dikamar saja jadi tidak didepan orang banyak atau anak – anak.
    • Terimakasih sayang, kamu sudah selalu tidak patah semangat, kerja keras, walau belum ada yang berhasil tapi kamu harus percaya yah semua yang kamu kerjakan tidak akan ada yang sia – sia, dan terimaksih juga sudah sempatkan telp saya setiap hari disela – sela kesibukan kamu.
    • Terimakasih kamu sudah selalu peduli pada saya dan keluarga besar kita, terimakasih untuk liburan minggu ini, saya sangat menghargai waktu yang sudah kamu siapkan.
    • Terimakasih tadi sudah ajak anak – anak jalan dan mengajarkan mereka nilai – nilai kehidupan. Saya sangat menghargai waktu kamu walau kamu lagi deadline kerjaan tapi kamu sudah siapkan waktu untuk anak – anak dan saya hari ini.
    • Terimakasih yah kamu sudah aware sama kesehatan kamu sendiri. Walau saya tidak sama kamu tapi kamu tidak lupa untuk menjaga kesehatan dan memilih makanan yang seimbang.
    • Boleh minta tolong ga, kalau ada lawan jenis yang chat kamu sebatas saja yah menjawabnya, karena saya mau orang lain menghargai kamu sebagai pasangan saya. Kalau kamu lakukan saya sangat berterimakasih dan saya minta maaf saya harus katakan ini yah sebagai pasangan kamu.
    • Terimakasih untuk hari ini yah, kamu sudah bantu saya berbagi tugas untuk melakukan pekerjaan rumah, jadi anak – anak saya bisa handle dengan maksimal. Besok saya buatin nasi goreng yang kamu suka yah, smile ❤️

    Apapun yang pasangan berikan pada kamu, jangan anggap memang itu sudah seharusnya dilakukan, tapi hargailah seakan – akan itu bukan seharusnya dilakukan untuk kamu, maka kamu akan menghargainya dan pasangan merasa dibutuhkan dan dicintai”

  • Cinta Menyelaraskan, bukan mencocokan.

    Mella Noviani

    Tidak ada pasangan yang akan bisa cocok, yang ada hanyalah dua manusia yang memilih untuk selaras atau dengan rendah hati mau menyelaraskan diri.

    Pernikahan bukanlah pertemuan dua kesamaan, melainkan perjumpaan dua dunia batin yang berbeda, dua sejarah hidup, dua cara mencintai, dua sistem emosi yang dibentuk oleh pengalaman, luka emosional masa kecil, dan harapan yang tidak pernah identik. Oleh karena itu, konflik dalam pernikahan bukanlah tanda kegagalan, melainkan sinyal bahwa dua individu sedang belajar hidup dalam satu ritme. Namun, tidak sedikit pasangan yang tersesat dalam kebingungan, bagaimana menyelaraskan prinsip, kebutuhan, dan harapan yang kerap bertabrakan. Ketika upaya menyelaraskan tidak dilakukan dengan kesadaran, perbedaan perlahan berubah menjadi sumber kekecewaan. Yang satu merasa digaslighting, dan yang lain merasa tidak dipahami. Masing-masing merasa diperlakukan tidak adil, tidak dihargai, bahkan terjebak dalam peran sebagai korban. Dari sana, relasi berubah menjadi ruang penghakimanbukan lagi tempat pulang dan saling bersandar.

    Banyak pasangan mampu bertahan dalam pernikahan hingga puluhan tahun, bahkan mampu mencapai usia pernikahan perak. Namun tidak semua relasi yang panjang adalah relasi yang sehat, ada pernikahan yang bertahan karena alasan eksternalyaitu harus bertahan demi anak-anak, orang tua, keluarga besar, status sosial, bisnis, atau ketakutan akan rasa malu. Semua inidinamakan survival mode atau mode bertahan demi stabilitas, bukan demi keutuhan pernikahan dengan hubungan yang sehat.Dalam perspektif Psikologi, relasi yang sehat bukan sekadar relasi yang bertahan, tetapi relasi yang dapat mendukung terciptanya konsep well-being dalam hidup berumah tangga. Dimana kesejahteraan psikologis yang mencakup rasa aman, keterhubungan, memiliki makna, dan pertumbuhan bersama dapat dilakukan. Tanpa itu, hubungan mungkin tetap berjalan, tetapi jiwa perlahan akan penuh dengan ancamankelelahan.

    “Bertahan membuat hubungan tetap ada, tetapi keselarasan membuat hubungan terasa hidup.”

    Setiap pasangan membawa kepribadian yang unik, ada yang tegas dan terstruktur, ada yang santai dan fleksibel, ada yang ekspresif, ada yang pendiam, ada yang sangat sensitif, ada pula yang sangat rasional. Ketahuilah bahwa perbedaan ini bukan untuk diseragamkan, melainkan untuk dipahami dan dimengerti.

    Langkah pertama menuju keselarasan adalah bagaimana masing – masing dapat mengenali diri sendiri, karena denganmemahami kecenderungan kepribadian akan dapat membantu seseorang menyadari dan berhenti untuk menuntut pasangannya berubah menjadi versi dirinya. Ketika seseorang memahami kekuatan dan tantangannya sendiri, ia mulai menyadari bahwa konflik sering kali bukan soal niat buruk, melainkan perbedaan cara memproses saja. Kesadaran ini menggeser relasi dari“siapa yang salah” menjadi “bagaimana kita bisa menyesuaikan langkah.”

    Banyak pasangan saling mencintai, tetapi gagal untuk saling mengisi. Bukan karena mereka kurang memberi, melainkan mereka memberi dengan bahasa yang tidak dimengerti satu sama lain. Cinta selalu hadir dan diucapkan, namun tidak sampai. Niat baik selalu ada dan berlimpah, tetapi hati tetap merasa kosong. Dalam relasi, setiap hati memiliki cara berbeda untuk mengenali cinta. Ada yang merasa dicintai ketika didengarkan dengan penuh perhatian, ada yang ketika kata-katanya tidak dipotong, ada yang perasaannya tidak disepelekan, dan ada yang merasa keberadaannya sungguh dihargai. Bagi hati yang seperti ini, “kata-kata afirmasi” Word of affirmation menjadi jembatan utamanya cinta. Ucapan yang tulus, pengakuan yang jujur, dan penghargaan yang sederhana mampu menenangkan batin lebih dari apa pun.

    Ada pula hati yang merasa aman bukan dari kata-kata, melainkan dari kehadiran yang utuh. Waktu yang diberikan tanpa gangguan, kebersamaan yang nyaman dan tidak tergesa – gesa, perhatian yang tidak terbagi dengan hal lain, membuatnya merasa diprioritaskan atau dipilih. Bagi mereka, waktu berkualitas “quality time” adalah bahasa kasih yang paling tepat, cinta terasa nyata ketika seseorang bersedia hadir sepenuhnya.

    Ketika bahasa hati dipahami, cinta tidak perlu dibuktikan namun ia dirasakan.

    Sebagian orang merasakan cinta melalui tindakan nyata seperti bantuan kecil, kepedulian yang diwujudkan dalam perbuatan, dan kesediaan untuk melayani tanpa diminta menjadi bukti kasih yang paling meyakinkan. Dalam bahasa ini, cinta berbicara melalui tindakan melayani “acts of service” dimana tindakan ini dilakukan melalui perbuatan yang meringankan beban pasangan, bukan janji – janji yang berulang.

    Ada hati yang mengenali cinta melalui sentuhan fisik, genggaman tangan, pelukan yang menenangkan, atau sentuhan lembut menjadi bahasa cinta yang aman dan sulit digantikan oleh kata-kata. Bagi mereka, sentuhan fisik “physical touch” bukan sekadar kedekatan tubuh, melainkan bentuk keterhubungan emosional yang mendalam.

    Dan ada pula yang merasa dihargai melalui pemberian yang bermakna, bukan soal seberapa besar nilai materi, melainkan ada makna di baliknya, bahwa seseorang merasa dipikirkan, diingat, dan diperhatikan. Dalam bahasa kasih ini, penerimaan hadiah “Gift” menjadi simbol cinta yang konkret.

    Relasi yang mendukung kesejahteraan psikologis adalah relasi yang mampu mengenali dan memenuhi kebutuhan emosional dasar ini dengan cara yang tepat. Psikologi positif menekankan bahwa kesejahteraan dalam hubungan tidak ditentukan oleh seberapa besar cinta yang dimiliki, melainkan oleh seberapa tepat cinta itu disampaikan. Menemukan bahasa kasih diri sendiri dan pasangan adalah bentuk empati praktis, ia menuntut kerendahan hati untuk berkata, “Cara mencintaiku bukan satu-satunya cara mencinta.” Ketika pasangan belajar berbicara dalam bahasa hati satu sama lain, cinta tidak lagi sekadar tulis, namun ia menjadi terasa, diterima, dan menenangkan.

    “Cinta yang dewasa bukan tentang memberi lebih banyak,tetapi tentang memberi dengan cara yang dimengerti.”

    Prinsip 4M, jalan menuju keselarasan dewasa

    Ketika kesadaran diri dan pemahaman emosional mulai terbentuk, pasangan akan lebih mudah menjalani prinsip relasional yang matang:

    Memahami sebelum bereaksi, Menerima tanpa keinginan mengubah, menghormati meski tidak selalu sepakat, dan dari sana, akan terjadi tindakan menghargai tumbuh secara alami. Keempat prinsip ini bukan sebuah teknik yang instan, melainkan komitmen harian untuk menurunkan ego dan memilih koneksi. Dalam relasi yang sehat, tidak ada kebutuhan untuk selalu menang tetapi yang harus dijaga adalah arah jalan yang mau bersama – sama.

    “Relasi yang sehat bukan tentang siapa yang paling benar,melainkan siapa yang paling mau menyelaraskan diri.”

    Pasangan yang selaras bukan berarti hidup tanpa konflik, tetapi memiliki kapasitas untuk mengelola konflik dengan kesadaran. Mereka membangun komunikasi yang efektif, terbuka, dan aman secara emosional, mereka mau jujur tanpa rasa takut, karena penghakiman bukan bahasa utama dalam relasi. Emosi justru harus diakui bukan untuk dikuasai, dukungan selalu dapathadir, bukan sebagai tuntutan melainkan kebebasan dan keterikatan yang harus dijaga dalam keseimbangan yang dewasa. Dalam relasi seperti ini, kepercayaan akan tumbuh, kecurigaan akan mereda, dan masalah dihadapi bersama, akhirnya bukan saling menyalahkan satu sama lain (positive relationships). Relasi yang tidak hanya membuat bahagia, tetapi juga memperkuat ketahanan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan. Keselarasan bukan sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang harus diciptakan. Ia lahir dari sebuahkesadaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus belajar satu sama lain. Pernikahan yang sehat bukan tentang menemukan orang yang sempurna, melainkan tentang dua manusia yang bersedia bertumbuh bersama dalam ketidaksempurnaan.

    “Well-being dalam pernikahan lahir ketika dua pribadi merasa aman menjadi diri sendiri,
    dan cukup dewasa untuk berjalan bersama.”

     

  • Banyak anak – anak remaja yang terpuruk dan menyatakan bahwa ia adalah anak “broken home”, yang diakibatkan dari perceraian orang tuanya. Menurut saya sebenarnya frasa broken home hanyalah sebuah gaya bahasa atau majas metafora yang memberikan ungkapan pada anak – anak yang orang tuanya bercerai. Frasa ini hanya untuk membuat kalimat menjadi keren tapi sangat negatif, tidak semua anak gagal dan rusak dikarenakan orang tuanya bercerai. Tergantung dari mindset yang dipilih oleh anak dan cinta yang diberikan dari ayah atau ibunya walaupun mereka bercerai. Asalkan pasangan suami dan istri yang telah bercerai tidak saling menghambat pertemuan dan mendidik serta dapat berkomunikasi antara orang tua dan anak – anaknya.

    Banyak contoh tokoh – tokoh besar memulai hidupnya dari keadaan tidak memiliki sosok Ayah (fatherless) atau sosok ibu (motherless) atau dikenal dengan orang tua yang tidak utuh, tetapi mereka berhasil dan membuktikannya pada Dunia bahwa broken home bukanlah label anak akibat perceraian.

    “Broken home bukan rumah dengan satu orang tua, broken home adalah rumah yang tidak memiliki cinta”.

    Sejak usia saya 26 tahun saya sudah menjadi seorang single mom dengan satu anak laki – laki yang sangat sempurna menurut saya dan saya sangat bersyukur sebagai ibu yang melahirkannya. Saya ditinggalkan oleh suami saya begitu saja untuk sebuah pilihan yang ia pilih tanpa kata – kata dan hanya selembar kertas yang menyatakan “pisah” saat anak kami berusia 1.5 tahun. Tidak ada yang ditinggalkan sebagai tanggung jawab kepada anak kami ini walau hanya satu koin uangpun atau benda sebagai bentuk harta yang dapat dijual. Buat saya itu tidak masalah tapi itu menjadi masalah dia dengan Allah. Dengan keadaan yang zero saat itu, saya bertekad untuk belajar berdamai dengan masalah yang saya hadapi dan tidak ingin meributkan tentang harta, uang atau tuntutan apapun karena saya sangat percaya dengan kebesaran Allah dan kemampuan saya untuk bekerja menghidupi anak yang ia tinggalkan.

    Komitment saya adalah meninggalkan kesenangan saya pribadi dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan serta menjadi seorang ibu yang benar bukan hanya baik dan sekaligus menjadi bapak untuk anak laki – laki saya ini. Dalam perjalanan kehidupan yang saya jalani ternyata itu tidak mudah. Karena rekaman di otak saya sejak kecil yang saya lihat dalam lingkungan keluarga adalah kekerasan dan abuse mental tapi saya menyadari bahwa saya harus memprogram otak saya (reset) menjadi sebaliknya buat anak saya yaitu “kasih, kebijaksanaan, pengertian dan kelemah lembutan.”

    Nature nya seorang perempuan membutuhkan perlindungan, tanggung jawab, dan dipimpin oleh laki – laki sebagai suaminya, kenyataannya hidup yang saya hadapi adalah harus melakukan sebaliknya sebagai single mom menjadi seorang ibu dan bapak untuk anak saya selama kurang lebih 20 tahun. Saya terus berlatih untuk memimpin diri saya sendiri sebelum saya memimpin anak saya. Saya berusaha semaksimal mungkin dengan cara nurture diri saya dengan pendidikan yang saya ambil melalui seminar tentang kepribadian, seminar tentang cara mendidik anak, membaca buku – buku psikologi, mendengarkan cerita teman – teman yang juga melewati nasib yang sama seperti saya untuk saya pahami, cerna dan pelajari.

    Selain bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak, sayapun harus bekerja keras mengubah diri saya dari mulai perilaku, sikap sampai mindset saya agar saya dapat menabrak trauma dan ketakutan saya dengan frasa “broken home”, karena saya mau anak saya tidak ada dalam list anak anak yang melabelkan dirinya broken home.

    Saya sangat memaknai sebuah kisah dua anak remaja kakak beradik yang masa kecil hingga remaja selalu melihat kekerasan dalam keluarganya, perkataan ayahnya selalu abuse mental kepada mereka, ayahnya sering memukuli ibunya, konflik selalu terjadi sampai akhirnya ayah dan ibunya bercerai. Ibunya memutuskan untuk bekerja keras agar bisa memenuhi kebutuhan sehari – hari kedua anak remajanya. Karena lelah dan stress berkepanjangan ibunya terkena strook dan kakak beradik ini menghadapi kekecewaan karena mereka tidak bisa meneruskan kuliah ke universitas yang mereka impikan.

    Si kakak mulai memiliki perilaku jarang ada dirumah, selalu menyendiri, dan tidak pernah mau diajak makan bersama lagi dirumah. Sampai akhirnya polisi mendatangi rumah mereka dan menangkap si kakak karena tersangkut kasus narkoba.

    Sementara si adik tetap pada mimpinya yaitu ingin masuk ke universitas, ia bertekad tidak akan memiliki keluarga atau menjadi seperti ayahnya, ia sering belajar tentang psikologi, Pengembangan karakter, komunikasi, tentang keluarga dengan hubungan yang sehat, dan ia mencoba beberapa usaha dengan berjualan online agar mendapatkan income dan tetap bisa kuliah sampai lulus.

    Maka si kakak hidup dalam penjara, sementara si adik aktif dalam keseharian positifnya sampai lulus kuliah dan bekerja serta memiliki keluarga yang harmonis. Saat ditanya mengapa kalian berdua punya keputusan masing – masing. Si kakak menjawab “aku benci ayahku, ini semua karena ayahku, si adik juga menjawab “ya ini semua karena ayahku, aku membenci perlakuan ayah tapi aku tidak membenci dia dan aku tidak harus menjadi seperti dia. Aku putuskan rantai masa lalu keluargaku dan aku bekerja keras untuk membantu diriku sendiri, aku harus tetap kuliah sambil bekerja. Jawaban yang berbeda inilah yang membuat perbedaan hasil akhir hidup dari kakak dan si adik.

    Setiap orang memiliki luka batin, luka masa lalu, traumatis, tapi pola pikir (mindset) kamulah yang menentukan kamu akan jadi apa dan siapa, kesalahan orang lain bukan alasan besar yang menjadikanmu dimasa depan. Pola hidup masa lalu kamu yang menyakiti dan mengecewakan bisa kamu putuskan rantainya sekarang juga, supaya kamu tidak hidup dalam pola yang sama lagi. Semua itu adalah pilihanmu !

    Kamu bisa hidup dengan pola yang kamu pilih sendiri, yang benar dan terbaik untuk versi dirimu.

    Getty image

    Kamu tidak bisa memilih terlahir dari mana, dari keluarga yang kaya atau miskin tapi kamu bisa memilih jalan hidup untuk masa depanmu, agar kamu bisa memenangkan pertandingan dari masa lalumu yang membuatmu kecewa.

    “Jangan lupakan masa lalu yang menyakitkan dan mengecewakan, tapi ingatlah untuk kamu pelajari dan ubah polanya agar kamu mendapatkan kebahagiaan yang sejati”

  • Komunikasi intrapersonal

    Banyak wanita menyesali perbuatannya setelah mendapatkan kekacauan atau kehilangan sampai akhirnya mereka marah dan benci pada orang lain bahkan membenci dirinya sendiri tanpa disadari.

    5 tahun saya melayani di lapas – lapas wanita daerah Jabodetabek membuat saya bertanya kepada para ibu yang ada didalam lapas saat kami bersama punya waktu seminggu sekali melakukan event – event pemberdayaan perempuan dan konseling. Pertanyaan saya adalah mengapa ibu melakukan itu sehingga ada didalam lapas wanita ini ? Paling banyak jawaban adalah “kalau waktu bisa diputar kembali saya tidak akan mau melakukan itu, sekarang saya baru menyadari benar – benar ternyata saya banyak tidak berpikir sebelum bertindak atau berkata – kata”. Padahal masalah saya saat itu sangat kecil, tapi bisa menjadi besar karena saya yang sangat emosional. Saya kehilangan suami, anak – anak dan saya mengendap didalam penjara. Saya sangat emosional karena suami saya di PHK dan belum mendapatkan pekerjaan, sehingga kami sering ribut didepan anak – anak dan menghina suami saya, saya selalu emosional walaupun suami saya sedang berusaha mencari pekerjaan baru. Akhirnya ada seorang teman menawarkan saya untuk menjadi kurir narkoba, dan saya menerima tawaran itu walau suami sudah melarang saya.

    Dalam sebuah komunitas perempuan yang saya ikuti sayapun bertemu seorang ibu yang juga menyadari bahwa ternyata sebenarnya bisa saja tidak terjadi perceraian dirinya dengan suaminya, kalau saat itu ia dapat mengelola emosinya tidak meledak – ledak menghina dan memaki suaminya saat suaminya bersalah. Saya bisa melihat penyesalan yang amat mendalam dari mata ibu ini karena ia mengatakan sebenarnya kalau dipikir – pikir suami saya itu sudah sangat baik, bijakaana dan bertanggung jawab. Saya baru menyadari setelah bercerai bahwa yang lakukan oleh mantan suami saya itu karena keterbatasannya saja sebagai seorang laki – laki.

    Komunikasi intrapersonal adalah proses dimana kita berkomunikasi atau berbicara dengan diri sendiri . Manfaat dari belajar untuk memiliki kemampuan komunikasi intrapersonal ini kita bisa melakukan proses berpikir, merenung, dan memahami diri sendiri dengan cara meningkatkan kesadaran diri (self awareness), evaluasi diri, dan pengembangan diri. Diri kita sendirilah yang menjadi pengirim dan sekaligus penerima pesan dan memberikan umpan balik bagi diri kita sendiri. Sebagai contoh dari komunikasi intrapersonal adalah Jika terjadi masalah, ujian atau cobaan hidup pada diri sendiri tidak menjadikan itu sebagai beban tapi menjadikan itu sebagai pengalaman dan merenungkan pengalaman tersebut dengan tidak mengeluh, mengambil melihat hikmah dan pelajaran apa yang dapat diperoleh. Jika senang menulis dapat menjadikan salah satu aktifitas untuk merefleksikan pikiran dan perasaan.

    Kecerdasan seseorang melakukan komunikasi intrapersonal ini mengeksplorasi seberapa terampil orang itu dalam memahami diri mereka sendiri. Mereka yang unggul dalam kecerdasan ini biasanya bersifat introspektif artinya selalu positif dan introspeksi diri dalam menghadapi masalah dan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah Pribadi.

    Buat mereka yang sudah merasakan umroh biasanya mereka selalu menulis dikontent media sosialnya “Ya Allah hamba rindu Engkau memanggil hamba kembali lagi ke tanah suci”, tetapi kita sama – sama mikir yuk apakah sebelum balik lagi kita memiliki perubahan hidup ? apakah kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri

    • Apa kekurangan saya yang perlu saya perbaiki ?
    • Apa kelebihan diri saya yang perlu saya sumbangkan agar bermanfaat untuk keluarga dan orang banyak.
    • Seperti apa lidah saya pergunakan setiap hari, untuk membangun atau untuk menjatuhkan ?
    • Apakah karakter saya sudah mencerminkan karakter ilahi, Allah yang maha segalanya maha penyayang, pengasih, pengampun tapi apakah saya sebagai manusia sudah menyangi, mengampuni dan semuanya dengan ikhlas ?
    Komunikasi interpersonal

    Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih yang memiliki hubungan personal dan melibatkan pertukaran informasi, ide – ide, dan perasaan antara individu-individu yang terlibat.

    contohnya saja Percakapan dengan teman – teman tentang kehidupan sehari-hari atau topik yang diminati. Diskusi dengan keluarga tentang masalah keluarga atau rencana masa depan, komunikasi dengan rekan kerja tentang proyek atau tugas yang sedang dikerjakan.

    Manfaat dari memiliki komunikasi Intrapersonal dan interpersonal :

    Manfaat melatih diri untuk memiliki kemampuan komunikasi intrapersonal :

    1. Dapat mengembangkan kesadaran diri dengan mengetahui kekuatan/kelebihan diri, kelemahan/kekurangan diri.

    2. Dapat meningkatkan etika dan kesopanan sebelum bertindak atau melakukan sesuatu.

    3. Dapat mengelola emosi dengan baik dan berpikir sebelum bertindak atau berkata – kata yang akan menyebabkan hati orang lain tersinggung dan tersakiti,

    4. Dapat mengurangi stres dan kecemasan serta dapat mengembangkan strategi coping.

    Manfaat melatih diri untuk memiliki kemampuan komunikasi intrapersonal :

    1. Dapat membantu membangun hubungan yang lebih dekat dan harmonis kepada pasangan atau orang lain.
    2. Dapat membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang kebutuhan dan perasaan orang lain.
    3. Dapat membantu mengurangi konflik dan meningkatkan kerja sama.

    “ Pikiran dalam otak manusia bisa berubah saat melakukan observasi, bukan pada saat ber argumentasi”.

  • Mella Noviani

    Kalau banyak di media seliweran kontent mengatakan “pernikahan itu isinya ngobrol!” Saya setuju kalimat ini, tapi kita pikir ulang deh, bagaimana bisa ngobrol kalau kita ga mau “berkorban nurunin ego ?” Banyak pasangan begitu diajak ngobrol yang ada malah jadi ribut, bahkan belum ngobrol udah tegang dan bawaannya mau ribut seperti udah siap senjata kesalahan – kesalahan apa yang akan dikeluarkan untuk saling membela diri saling menyalahkan. Jadi kalau saya bilang “pernikahan itu isinya adalah BERKORBAN!”. Tiap hari ada aja kita harus berkorban dari hal paling kecil, menengah dan besar.

    Contoh kecil saja berkorban saat konflik terjadi, mau ga berkorban daripada gontok – gontokan atau saling emosional. Salah satu suami atau istri mulai memeluk dan bilang “saya sayang kamu, kita harusnya tidak begini saling menyakiti, saya minta maaf sudah emosional, kita duduk yuk bicarakan kedepannya kita harus perbaiki seperti apa. Dan pasanganpun menjawab ia maafin aku juga yah sambil memeluk, yuk kita duduk bicara tanpa menyalahkan”. Ah begitu indah hidup ini dalam keadaan konflikpun kalau kamu mau berkorban, kamu bisa tetap ngobrol bukannya silent treatment yang akhirnya mematikan hubungan.

    SEKARANG !!! VIRAL pasangan artis yang bercerai dan banyak pembahasan di media sosial yang menimbulkan pro kontra, banyak pertanyaan dari kasus perceraian ini yang salah siapa, apakah yang salah itu pihak perempuan atau pihak laki – laki.

    Saya bukan pengamat artis Indonesia, biasanya saya skip kalau lewat diberanda media sosial saya tentang kisah – kisah artis Indonesia. Tapi kali ini buat saya sangat menarik dan tidak ingin melewatinya, karena banyak beredar bukti rekaman yang menyatakan dimana sang istri melakukan sesuatu hal yaitu menjatuhkan harga diri suaminya dengan menjelekan suami, curhat tentang kekurangan suami, dan sebagainya kepada laki – laki lain sampai terjadinya dugaan perselingkuhan. Tapi banyak dari netizen membela sang istri, nah menarik nih saya sampai akhirnya mencari – cari dari semua jenis sosmed apa saja hasil observasi para netizen tentang berita yang di up mulai dari youtube, instagram, tik tok bahkan masuk ke story IG harian pasangan ini, “istilahnya saya keypo!”

    Banyak yang mengatakan kalau perceraian mereka disebabkan dari salah satunya adalah karena komunikasi yang kurang baik, suami pelit, bahkan dugaan perselingkuhan dengan sahabat suami. Banyak tuduhan dari masing – masing pasangan yang bercerai, apalagi kalau salah satu atau keduanya membuka aib masing – masing, dimana yang dulunya pamer kemesraan berujung dengan pamer aib masing – masing. Ini sangat menyakitkan tidak hanya untuk kedua belah pihak yaitu suami dan istri tapi juga menyakitkan anak – anak dan keluarga besar pastinya, semua menanggung beban pikiran, malu dan trauma.

    Lagi – lagi banyak pandangan memberikan pendapat kepada suami istri yang bercerai bahwa komunikasi mereka kurang baik. Tetapi tahukah apa saja hal mendasar yang perlu di ketahui sebelum berkomunikasi dengan pasangan atau orang lain.

    Sebenarnya ada hal mendasar yang harus diketahui terlebih dahulu sebelum mempelajari bagaimana berkomunikasi menjadi baik dan efektif. Jika tidak mempelajari hal – hal mendasar ini, perjalanan pernikahanmu seperti Ibarat “menanam padi dilautan”, terombang ambing dan tidak bertumbuh bahkan mati. Itulah gambaran kalau kita salah melakukan step komunikasi dengan pasangan.

    Pengalaman saya banyak mengajarkan ternyata yang perlu kita ketahui sebelum menjalin hubungan dengan pasangan adalah :

    • Pertama adalah mengetahui siapa diri kita atau tipe kepribadian kita dulu (find yourself ) baru kita mencari tahu tipe kepribadian pasangan kita (find himself) dengan cara mengetahui tipe kepribadian yang dimiliki oleh masing – masing apakah kamu dan pasangan memiliki satu diantaranya yaitu plegmatis, melankolis, sanguin, dan koleris.
    • Kedua mengenali satu dari lima bahasa kasih yang ada antara kamu dan calon pasangan. Lima bahasa kasih itu adalah (five love languages) yaitu Words of affirmation, Acts of service, Receiving gifts, Quality time atau Phisical touch agar masing – masing dapat memahami kekurangan, kelebihan tanpa menghakimi (judgement). Dengan memahami semua itu kamu dapat menaklukan pasangan dengan benar sesuai kebutuhan psikologinya.
    • Ketiga mau saling bertanya apakah mau berkomitment untuk berlatih menurunkan ego masing – masing dan memiliki prinsip bahwa perubahan dimulai “dari kita terlebih dahulu” agar masing – masing memiliki sikap yang dewasa (mature) dalam menyelesaikan konflik.
    • Keempat atau terakhir adalah mau berkomitment untuk menghindari curhat atau membicarakan kekurangan pasangan kepada pihak luar apalagi lawan jenis, karena itu sangat mempermalukan pasangan dan diri kamu yang menceritakannya karena akan terlihat tidak dewasa. Jika ingin curhat sekedar melepaskan unek – unek, kamu harus tahu cara menyampaikan dengan benar agar tidak mempermalukan pasangan dan diri kamu sendiri.

    Tanpa mengetahui tipe karakter dan bahasa kasih masing – masing akan sulit berkomunikasi dengan efektif, mengapa saya katakan demikian karena itu sangat mendasar. Bayangkan seseorang yang kehausan dan sekarat membutuhkan air minum tapi dengan niat baik, kita memberikan makanan kepada orang yang sedang kehausan tersebut karena pandangan kita kalau dia makan dia akan kembali pulih dan segar. Tapi justru sebaliknya, orang tersebut tidak nyaman, keselek dan bahkan mati karena tubuhnya membutuhkan air terlebih dahulu bukan makanan.

    ..Tidak perlu mengatakan bahwa..”

    “saya mencintai pasangan saya, tapi lakukanlah dengan tindakan agar pasanganmu merasa dicintai” – Mella Noviani-

  • Mella Noviani

    Dari seorang teman saya menerima undangan untuk menjadi salah satu narasumber untuk program podcast bersama ibu Lucy Willar di icsl studio Jakarta http://www.instagram.com/icsl.studio/ dengan tema Life Journey. Saat saya menanyakan pembahasan life journey seperti apa yang harus saya sampaikan, dengan sedikit tegas tapi dihiasi senyuman beliau mengatakan “santai aja, kita ngobrol and tell about yourself”. Kebetulan saya suka sekali dengan frasa life journey, maka saya siap untuk menceritakan perjalanan hidup, mimpi dan legacy apa yang saya akan tinggalkan untuk dunia ini.

    Perjalanan hidup semua orang tidak akan pernah ada yang sama persis dari awal hingga akhir, oleh sebab itu sangatlah menarik jika kita mendengarkan life journey dari masing – masing orang, dan jika kita mau menjadi pendengar setia tanpa menghakimi kita akan banyak belajar tentang kehidupan. Bagaimana serunya menjalankan kehidupan didunia dimana kita bisa menemukan dan melewati kesusahan tapi berujung dengan mendapatkan indahnya mujizat. Ada yang paling indah dalam hidup setelah kesusahan dan mujizat menurut saya, yaitu “hikmah, wisdom atau kebijaksanaan dan makna dari perjalanan hidup itu.”

    Semua hal itu dibentuk oleh pengalaman – pengalaman yang kita alami baik itu positif atau negatif, kita harus menerima semua hal yang kita anggap tidak nyaman sekalipun tanpa banyak komplain karena dari situ kita akan menerima yang namanya mujizat, hikmah, wisdom atau kebijaksaan tadi. Perjalanan akan memberikan kita pengalaman yang namanya salah jalan, salah gang, salah titik lokasi, itu manusiawi. Prinsip saya bahwa salah atau benar jalan kita tapi kalau kita mengetahui tujuan kita mau kemana, kita akan diarahkan ketujuan tersebut.

    Seperti saat kita menggunakan GPS, saat naik mobil, alat itu akan memberikan jalan baru (re – road) ketujuan kita kalau kita salah jalan, seru kan!! hanya masalah waktu dan pengalaman yang kita dapat saat tersesat itu saja yang berbeda. “Mungkin waktunya agak sedikit lambat tapi pengalaman yang kita dapat bisa jadi lebih banyak”

    Achievement dan fulfillment 

    Seperempat perjalanan hidup saya, saya sangat merasakan semua kesuksesan yang dulu saya ingin raih jalannya dipermudah oleh Allah. Saya selalu bertanya dalam hati saya, 5 tahun lagi kamu mau jadi apa dan siapa ? Karena saya tahu hidup ini adalah sebuah perjalanan, saat itu jawaban saya adalah saya butuh achivement. Usia 20 tahun dimana seusia saya saat itu, disaat teman – teman saya masih berjuang mencari untuk mendapatkan posisi yang sudah saya miliki, tapi justru sebaliknya saya sudah mendapatkannya. Saya mendapatkan pekerjaan tanpa banyak hambatan dan sampai dititik kehidupan yang “uang bukan lagi sebuah masalah bagi saya.”

    Apa yang saya mau semua saya bisa dapatkan, contohnya saja mengendarai mobil – mobil mewah gonta – ganti setiap harinya itu sudah saya pernah rasakan. Boleh dibilang sampai mobil yang diatas 6000CC pun saya sudah coba (kebetulan saya jual beli mobil mewah sih saat itu). Showroom memang bukan milik saya pribadi, tapi saya punya kesempatan untuk test drive setiap kali ada mobil yang datang, hahaha) tapi ini blessing kan.

    Journey nya saya mendapatkan bonus dari Tuhan, tapi hakikatnya manusia kan kalau belum coba satu hal saja pasti kepengennya banyak yah, nah saya cobain semua mobil mewah itu saja sudah langsung puas. Jadi ngapain saya harus beli lagi, kalau tiap hari saya bisa coba cobi. 

    Saya belajar dari pengalaman ini, bahwa apa yang kita anggap excited, kerja keras mati – matian mau coba sesuatu atau punya sesuatu dan terjadi ya sudah jadinya seperti biasa saja, seperti nothing special.

    Setiap minggu saya ada di posisi dimana kalau saya keluar Negri untuk shopping sesuka hati saya tanpa liat harga, beneran setiap minggu saya rasakan. dan banyak hal lagi kemudahan yang saya dapatkan. Tapi ada rasa yang kosong dalam diri saya (emptyness), entah apa yang membuat saya tidak bahagia di saat itu. Saya sudah punya semuanya, seperti diatas puncak kejayaan dalam ukuran saya, tapi saya tetap merasa seperti belum puas, masih ada yang saya cari entah apa saya tidak paham. saya seperti kehilangan arah, apa fungsi saya di Dunia, kenapa saya dilahirkan, mengapa saya bercerai dengan pasangan saya karena terlalu banyaknya penghianatan dan konflik. Saya merasa sendirian didunia ini di tengah banyaknya orang yang saya kenal, saya tidak pernah jahat kepada orang lain tapi kenapa orang lain begitu jahat terhadap saya, saya kecewa, marah, dan mengapa banyak guncangan dalam hidup saya.

    Dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun saya menjalani hidup sebagai single mom untuk satu anak laki – laki saya tanpa peninggalan sepeserpun dari mantan suami saya. Dan pada akhirnya saya menyadari bahwa bukan hanya saya satu – satunya yang mengalami persoalan itu. Di Jakarta ini ternyata banyak sekali Perempuan yang berpisah tanpa peninggalan dari mantan suami sepeserpun. “buat perempuan yang independent hal itu terasa lebih berharga saya lepas dari kamu tanpa sepeser apapun daripada saya hidup tersiksa dengan kamu”.

    Tekad saya harus kuat dan berkomitment untuk mau bekerja keras demi anak saya dari tangan dan keahlian yang saya punya. Dari pengalaman indah yang Tuhan berikan tentang kesuksesan saya, ternyata bekerja keras sebagai seorang janda itu tidak mudah. Dari mulai godaan dan direndahkan oleh lingkungan itu sangat berat sekali, maka untuk melindungi diri saya, saya memasang perisai kepada semua orang dengan cara saya mengatakan bahwa saya sudah memiliki suami, ini terjadi hampir 20 tahun, semua ini saya lakukan agar saya tidak mendapatkan godaan dan hal – hal lain yang saya tidak mau.

    Tapi memasuki usia diatas 40 tahun, saya menyadari bahwa saya tidak bisa hidup sendiri, bukan masalah uang tapi faktor psikologis, sementara kalau di usia tersebut kita baru mau memilih untuk menikah lagi, pertanyaannya adalah siapa orang yang tepat ?

    Banyak lingkungan saya mengatakan pilihannya adalah kalau bukan suami orang, duda atau berondong. Oh no way ! Bukan itu yang saya mau, “loh kenapa duda ga mau. Bukan saya ga mau, tapi saya observasi duda pun masalah nya banyak (traumatis yang menyebabkan mereka punya prinsip “ah just for fun aja deh).”

    Di saat saya mau memilih pasangan untuk berikutnya, justru saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan. Banyak pertanyaan dalam diri saya mengapa, mengapa, mengapa….mengapa perempuan lain bisa, mengapa saya tidak. Akhirnya saya menemukan cara bagaimana saya bisa hidup Bahagia yaitu dengan cara “saya menemukan tujuan dan panggilan hidup saya.”

    Tujuan hidup dan panggilan hidup

    Tujuan hidup saya didunia ini adalah takut kepada Tuhan, melayani Tuhan dan menaati segala perintahNya. Saya banyak belajar bahwa untuk taat itu kita harus banyak diam, tenang, damai, agar kita bisa mendengar suara Nya. Sempat beberapa kali saya mengatakan perintah Tuhan itu kan menikah dan perbanyak keturunan agar semua yang dilahirkan menyembah Tuhan, tapi mengapa Tuhan tidak permudah saya untuk mendapatkan pasangan yang tepat. Akhirnya saat saya diam sambil minum air lemon dipagi hari saya seperti mendapat wisdom, “hi Mella, apakah pernikahan dalam hidupmu itu kehendak Tuhan atau hanya ego kamu saja untuk menginginkan pernikahan itu”.

    Sangat benar sekali pernikahan memang perintahNya tetapi apakah saya sudah melakukan perintah – perintahNya yang lain, selain pernikahan. Ini yang harus saya temukan selain sebuah pernikahan, dimana pernikahan ini yang saya inginkan, ini hanya ego saya!.

    Saya merenungi bahwa Rencana Nya bukan rencana kita itu benar sekali, janganlah kita memaksakan kehendak kita, dan memberilah maka kamu akan diberi, melayanilah kamu didunia ini bukan untuk dilayani, hampir 20 tahun saya observasi masalah rumah tangga dari pengalaman pribadi saya dan orang lain, saya mempelajari dari mengikuti seminar – seminar, membaca buku, sampai akhirnya saya diberi oleh Tuhan kesempatan menjadi pemimpin disalah satu Yayasan keluarga berbasis psikologi dari Amerika. Pada akhirnya saya bingung bagaimana saya mengimplementasikan nya karena saya tidak punya suami, saya berpikir proaktif saja apa yang saya bisa lakukan terlebih dahulu yaitu mengajar (karena saat kita mengajar pun kita sedang belajar), saya banyak mengajar secara offline dan online kepada banyak remaja dan ibu – ibu di pemberdayaan Perempuan. Saat saya melayani atau memberikan pelayanan masyarakat di titik – titik lokasi Jakarta, salah satunya adalah di rusun marunda Jakarta Utara.

    Disana saya hampir setiap minggu mengajar anak – anak muda, dari mulai pengembangan diri, dance, drama, atau hanya sekedar bermain karet dan ngobrol sana sini ngalor ngidul dengan mereka. Disana saya banyak menemukan kelegaan hati, saya seperti menurunkan standar saya karena dari sinilah saya menemukan kebahagiaan sejati saya dimana saya bisa ada bersama mereka dan hidup dengan sangat sederhana.

    “Fulfillment adalah  perasaan saat manusia merasa “terpenuhi” hati dan jiwanya menjadi sebuah kepuasan dan kebahagiaan yang sejati sampai merasa saya bukan apa – apa selain harus melakukan ini sebagai panggilan hidup saya berada didunia ini” – Mella Noviani-

    Didalam pelayanan Masyarakat inilah saya menemukan kebahagiaan, saya rela berkorban apapun (waktu, tenaga, materi) karena saya merasa Bahagia (joyful). Disinilah saya menemukan apa arti pemenuhan panggilan hidup (fulfillment). Banyak orang tidak percaya pada apa yang saya lakukan, pastinya ada pro dan kontra.

    Ada yang bilang wah Mella luar biasa keren, ada juga yang mengatakan ngapain sih bodoh banget ke arah sana hidupnya, ih.. ga banget liatnya dan ada juga yang bilang pasti mau nyaleg yah, atau mau cari pencitraan. Saya siap dikatakan apapun sekalipun mereka mengatakan saya bodoh, prinsip saya bodoh dimata manusia itu tidak jadi masalah, tapi saya tahu ini bukan bodoh dimata Tuhan.

    Akhirnya saya banyak mempelajari kehidupan, dari pengajaran Theologi dan Psikologi, saya banyak belajar dirumah tentang akhir tujuan hidup saya mau kemana, saya menentukan arah hidup saya dengan menuliskan mimpi – mimpi saya, dengan membuat mind mapping untuk hidup saya.

    Dengan melakukan doa khusus setiap saat, saya menemukan wisdom bahwa “hidup ini bukan tentang saya, tapi tentang orang banyak”, bagaimana kita bisa menabur kasih, cinta, kedamaian untuk orang banyak. Dengan perjalanan hidup yang sudah saya jalani disetengah abad ini, saya memiliki mimpi untuk membuat “sekolah perempuan”, bagaimana saya bisa memberikan edukasi untuk persiapan menuju dunia pernikahan karena dalam pernikahanlah hidup sesungguhnya dimulai, peperangan kita untuk kita memenangkan pertandingan menuju kekekalan.

    Banyak yang bertanya mengapa sekolah perempuan, mengapa bukan umum ? Apakah laki – laki tidak perlu belajar tentang pernikahan. Padahal sepertinya masalah perselingkuhan yang terkuak dimulai dari pihak laki – laki. Saya senang sekali dengan pertanyaan ini, jawaban saya adalah karena perempuan diciptakan Tuhan sangatlah stretegis, “perempuan dapat membangun istana atau meruntuhkan istananya” tergantung dari pola pikir nya (mindset) mengatur ritme keluarga menuju hubungan yang sehat.

    Mimpi

    Mimpi saya adalah mengurangi tingkat perceraian di Indonesia dengan cara menulis, mencetak buku tentang pernikahan, dan mempersiapkan learning centre (sekolah Perempuan) di tahun 2026 yang akan datang saya harap saya sudah bisa mulai untuk mempersiapkan remaja – remaja generasi 2045 masuk dalam dunia pernikahan yang benar, bukan hanya menikah tetapi “menikah dengan hubungan yang sehat, pre – marital (pra nikah)”. Mempersiapkan para millenial dimana mereka mengerti bukan hanya pernikahan coba – coba tapi fokus pada pernikahan dengan hubungan yang sehat, mempersiapkan perempuan – perempuan yang pernah gagal dalam pernikahan dan mau memulai kembali kehidupan rumah tangganya, serta mempersiapkan ibu – ibu untuk bisa mendidik anak – anaknya secara efektif. 

    Legacy 

    Saya berdoa semoga ini menjadi warisan (Amal jariah) saya untuk Indonesia, karena sebaik – baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Kehidupan didunia ini seluruhnya tentang bagaimana kita bisa memuliakan Allah dalam pikiran dan kehidupan, menjalankan perintah Nya, semua ini yang akan membuat manusia Bahagia lahir batin dan kita siap mempertanggung jawabkan di hari akhir kita nanti. 

    “Segala hal yang kamu lakukan untukmu akan hilang bersamamu, segala hal yang kamu lakukan untuk orang lain akan selalu ada sebagai legacy” Mella Noviani.

  • Ooppss jangan negatif dulu yah, ++ disini maksudnya adalah ibu rumah tangga yang juga adalah pejuang penerus RA Kartini dengan memaksimalkan potensi yang ada didalam diri.

    Mella Noviani

    “Dari perempuanlah manusia itu pertama – tama menerima pendidikan, dipangkuan perempuanlah seorang mulai belajar merasa, berpikir dan berkata – kata, dan makin lama makin jelaslah bagi saya bahwa pendidikan yang mula mula itu bukan tanpa arti bagi seluruh kehidupan.” – Surat Kartini.

    Kutipan surat – surat Kartini selalu kita lihat kembali atau kita dengar setiap tanggal 21 April, saat semua perempuan khususnya merayakan peringatan hari Kartini. Peringatan ini untuk kita mengenang sejarah pahlawan emansipasi yang perjuangannya sudah mengeluarkan perempuan dari sisi gelap dimasa penjajahan.

    Saya salah satu orang yang sangat mengagumi pemikiran, tulisan dan perjuangan Kartini, dan saya salah satu orang yang ingin mengikut jejak kartini. Sayapun berharap Perempuan Indonesia memiliki pemikiran dan harapan yang sama dengan saya.

    Kalau dulu Kartini sampai menulis surat tentang keresahannya yang sangat mendambakan kebebasan sebagai seorang perempuan, bergerak dan bahagia untuk menentukan nasibnya sendiri, jusru sekarang semua itu sudah kita bisa dapatkan dengan mudah dan sudah bertambah dengan dukungan teknologi digital yang ada sekarang. Alasan apalagi untuk kita sebagai perempuan tetap bermalas malasan atau hanya jadi seorang penonton kesuksesan orang lain. Semua perempuan adalah ibu rumah tangga, tapi perjuangan Kartini membuat kita adalah ibu rumah tangga plus plus (++) artinya perempuan bukan hanya sebagai tiang doa dan ketahanan keluarga, dimana perempuan dapat tersenyum ditengah kesedihan dan kesulitan, dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak anak dengan hanya kedua tangannya. Tetapi perempuan juga bisa menjadi tiang Negara yang banyak berkontribusi dengan bergerak melakukan pemberdayaan perempuan melalui UMKM dll. Kartini masa kini berperan penting dalam era digital dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia dan inspirasi bagi generasi muda Gen Z.

    Terlebih penting lagi perempuan sebagai jembatan kesuksesan keluarga untuk kesuksesan Negara, perempuan bisa melahirkan dan memberikan pendidikan bagi anak anaknya, sehingga mereka menjadi orang – orang terpilih di Negara ini, pemimpin – pemimpin dari mulai jajaran staff diperusahaan sampai seorang presiden di Indonesia.

    RA Kartini adalah pembuka jalan perempuan dari keadaan gelap menjadi terang, maka hari –  hari ini walaupun semua mengatakan kalimat yang menurut saya kok agak mengerikan yah yaitu kalimat “Indonesia gelap” di zaman pemerintahan ini, ah saya ga ambil pusing. Saya hanya mau bilang mari kita memiliki pola pikir sebagai “perempuan terang ditengah indonesia gelap.”

    Perempuan Indonesia menjadi barisan yang dapat melakukan estafet perjuangan RA kartini agar dapat melanjutkan semua kebaikan yang dapat bermanfaat untuk generasi selanjutnya, yaitu generasi emas tahun 2045. 

    Kartini masa kini berperan penting dalam era digital dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia. 

    1. Mengembangkan Literasi Digital : Meningkatkan kesadaran dan kemampuan perempuan dalam menggunakan teknologi digital untuk mengakses informasi dan peluang.
    2. Mengambil Peran dalam Industri E-commerce : Berpartisipasi dalam industri e-commerce untuk menciptakan peluang ekonomi dan meningkatkan kemandirian perempuan.

    Dengan demikian, Kartini masa kini dapat melanjutkan perjuangan RA Kartini dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

    “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu – satunya hal yang bisa menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri” – RA Kartini –

  • Mella Noviani

    Delapan tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2017 saat saya terbang ke Colorado Springs (Cos) untuk mengikuti Family conference yang diadakan oleh sebuah yayasan keluarga dunia tempat dimana saya menjabat sebagai CEO selama 5 tahun untuk Indonesia. Saat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta saya duduk berhadapan dengan seorang ibu yang wajahnya terlihat sedih di ruang boarding. Saat masuk ke pesawat ternyata beliau duduk satu deret tepat disamping saya, dan sayapun langsung merasakan bahwa kami berdua adalah orang yang berkepribadian introvert. Karena di antara kami berdua tidak banyak bicara hanya saling melepas senyuman.

    Setelah pesawat take off dengan sempurna dan bunyi ting terdengar, saya menyalakan lampu baca dan membuka buku yang masih harus saya baca yaitu when God doesn’t make sense. Sampai akhirnya pramugari menyapa bertanya kita berdua mau makan apa dan selanjutnya kami menikmati makan yang sudah disediakan. Ibu itupun menyapa saya dan berkata “kalau makan di pesawat gini, tanpa sambel jadi ga nafsu makan yah mba”. Dihati saya terlontar kalimat, “sepertinya bukan sambel deh bu yang buat ibu nggak nafsu makan tapi hati ibu yang sepertinya lagi sedih” akhirnya saya pun tersenyum dan tertawa kecil bilang ia benar bu, oh nama ibu siapa ? Akhirnya saya mengulurkan tangan dan ia menyebutkan namanya “oh nama saya Rosaline”.

    Kami berdua mulai bercerita dari mulai tujuan mengapa terbang ke Colorado, keluarga dan pengalaman kami masing – masing. Ibu Rosaline bercerita Bahwa ia baru saja bercerai di usia pernikahan yang baru seumur jagung, ia bercerita ahhh…. Sambil menghela nafas panjang dan tangan kirinya memegang dada, ibu Rosalin mengatakan susah yah mba hidup ini cobaan berat banget dalam pernikahan itu, kalau bukan dari suami ya dari mertua atau bisa dari anak – anak.

    Saya ini cobaan nya mertua mba, mantan suami saya sih tidak banyak masalah dan manut – manut aja orangnya, hanya saya tidak tahan dengan mantan mertua saya yang orang nya sulit sekali dan terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga saya.”

    Saya baru saja bercerai dengan suami, karena suami saya lebih memilih orang tuanya daripada saya istrinya. Sambil ibu Rosaline bercerita panjang seperti biasa saya senang menikmati untuk menjadi pendengar setia. Buat saya jika ada yang bercerita tentang masalah kehidupan, rasanya saya ingin mencatat apa saja semua masalah yang ia ceritakan. Karena buat saya mendengarkan cerita masalah orang lain adalah seperti saya sedang menganalisa suatu makna kehidupan dan saya harus mendapatkan apa arti dari makna itu. Sampai akhirnya kami berpisah di airport Denver dan kami melanjutkan perjalanan kami masing – masing.

    Didepan pintu keluar Denver International Airport, Jane teman saya sudah terlihat menjemput dan melambaikan tangannya dengan senyum hangat kepada saya, saat saya mendatanginya saya sudah siap dengan oleh – oleh yang saya beli dari Jakarta khusus untuk Jane. Saya membelikan Jane syall batik yang biasa orang Amerika suka menerimanya. Setiap saya datang ke Colorado Springs untuk mengikuti Conference, tradisi yang diajarkan adalah kami saling membawa oleh – oleh khas Negara masing – masing untuk setiap teman yang hadir dari beberapa Negara.

    Dalam perjalanan dengan mobil dari Denver ke Colorado springs kurang lebih hampir 1 jam 25 menit, saya dan Jane banyak bercerita tentang pertemuan saya tadi dengan ibu Rosaline dan cerita hidupnya yang menikah singkat akhirnya bercerai karena tidak cocok dengan ibu mertuanya.

    Jane menanggapi cerita saya dengan excited, ia menanggapi bahwa “laki – laki akan stress out kalau sudah dihadapkan harus memilih istri atau orang tua”. Ego dari seorang perempuan adalah ia ingin dipilih dan suami berkorban untuk istri. Tapi pada kenyataannya itu tidak bisa karena yang melahirkan suami kita adalah ibunya. Dalam pernikahan hati seorang ibu (mertua) merasakan mereka hanya tidak ingin kehilangan sosok dan perhatian dari anaknya yang ia pernah dapat dari masa kecilnya, saat anak laki – lakinya menikah dengan seorang perempuan yang menjadi istrinya maka ibu mulai banyak merasa ketakutan dalam hatinya. Ketakutan itu akan menjadi tindakan yang terasa akan sangat tidak nyaman pada setiap istri.

    Saya sangat setuju dengan Jane, sejenak saya terdiam dan berdoa pada Tuhan saat itu jika Tuhan ijinkan saya memiliki ibu mertua dalam hidup saya, ya Tuhan saya minta seorang ibu mertua yang bisa get along dengan saya. Tapi saya berpikir dua kali bagaimana jika Tuhan beri saya cobaan saya mendapatkan ibu mertua yang tidak sesuai ekspektasi saya seperti kejadian ibu Rosaline. Kesimpulan dari saya diam sejenak saat itu adalah apapun karakter ibu mertua yang akan Tuhan berikan pada saya nanti, saya bertekat harus belajar dari sekarang bagaimana caranya saya bisa get along atau bisa menjadi teman dengan ibu mertua saya nanti.

    Setelah pulang dari family conference, saya banyak belajar dan mendapatkan insight tentang bagaimana kita bisa memiliki hubungan yang sehat dengan pasangan, mertua, anak – anak, kakak dan adik ipar, serta keluarga besar dalam keluarga pasangan saya. Kuncinya adalah memiliki prinsip 4M seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya yaitu Memahami, Menghormati, Menerima dan Menghargai. “Tanpa Memahami kita tidak bisa Menghormati, tanpa menghormati kita sulit menerima, tanpa Menerima kita akan kehilangan rasa Menghargai.” semudah itukah ? mungkin banyak yang berpikir “ga mudah” tentu saja, tapi pastinya “semua akan menjadi mudah jika kita tau caranya.”

    Menjalin hubungan yang baik dengan mertua bisa jadi sebuah tantangan yang banyak orang bilang tidak mudah, saya bisa bilang saya setuju tapi sekali lagi ingat “Jika kita tau caranya dan mau menurunkan ego kita, semua akan menjadi mudah”.. Istri dan mertua pastinya memiliki persepsi dan ego masing – masing, tetapi percayalah seperti terlihat sulit tapi mudah jika kita melakukan dengan pendekatan yang tepat, kamu bisa membangun hubungan yang hangat dan saling mendukung.

    “Seorang ibu memberikan kamu hidup, seorang ibu mertua memberikanmu hidupnya”

    Sebagai anak menantu (Daughter in law) saya memberikan beberapa cara atau strategi untuk membantu kamu menjadi teman yang dicintai ibu mertua :

    Strategi Nomor 1 : Membangun komunikasi yang terbuka.

    • Jujur dan terbuka dalam berkomunikasi adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat, cobalah untuk mendengarkan pandangan atau cerita mereka tanpa cepat menghakimi. Cari apa kesamaan (common ground) antara kamu dengan ibu mertua, apakah olahraga, memasak, dan lainnya. Jika kamu bisa menunjukkan minat pada kehidupan mertuamu itu dapat mempererat hubungan. Jika ada perbedaan hargai perbedaan itu, lakukan sesuatu yang kreatif agar perbedaan itu menjadi indah.
    • Tanyakan tentang hidup mereka, tanyakan minat, hobi, atau pengalaman apa yang sudah mereka miliki, karena mertua pasti punya pengalaman hidup yang panjang, khususnya dalam membina rumah tangga atau mengurus keluarga, jadi cobalah lebih menyimak dan memahami karena banyak hal yang belum kita lihat atau jalani seperti yang mertua kita jalani. Dengan tertarik mau mendengar, memahami, mencerna, berinteraksi dengan hati dan ekspresi tanpa menghakimi Ini akan membuat mertua merasa dihargai dan lebih terbuka kepada kamu. Hormati nilai-nilai dan pandangan mertua, meskipun tidak selalu sejalan dengan kamu, ini menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang menghargai perbedaan dan tidak menganggap remeh pendapat mereka.

    Strategi nomor 2 : Menunjukan Rasa dan pengertian terhadap pilihan hidup mereka.

    • Saat berkunjung usahakan membawa oleh – oleh kecil, tidak harus mahal, membelikan apa yang menjadi kesukaannya adalah hal yang sangat luar biasa.
    • Mengingat hari ulang tahunnya dan membuat perayaan kecil bersama keluarga.
    • Untuk kamu yang memiliki aktifitas tinggi karena bekerja dan mengurus anak – anak atau bahkan kamu adalah seorang yang introvert memang menjadi tantangan tersendiri untuk bisa berkomunikasi setiap hari melalui telp ataupun whatsapp, tidak masalah tetapi bisa dikomunikasikan dengan mertua untuk kreatif memaksimalkan waktu, misal saja membuat janji di hari weekend untuk bersama – sama melakukan aktifitas keluarga.
    • Tidak membandingkan cara mertua mengurus rumah dan keluarganya atau bagaimana mereka menjalani hidup selama ini, juga jangan pernah terburu-buru mengkritik cara mereka mendidik pasanganmu.

    Strategi Nomor 3 : Autentik, jadilah Diri Sendiri

    • Cobalah untuk menjadi diri sendiri, jangan mencoba untuk menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan hati mertua. Mertuamu akan lebih menghargai ketika kamu tampil authentic dan tidak berpura-pura.

    Strategi nomor 4 : Create moment untuk bisa punya waktu bersama

    • Ajak mertua untuk melakukan aktivitas bersama seperti makan siang, pergi berbelanja, atau menikmati hobi yang sama. Ini akan memberi kesempatan untuk saling mengenal lebih baik dalam suasana yang lebih santai.
    • Berpartisipasi dalam acara keluarga. Tunjukkan bahwa kamu ingin menjadi bagian dari keluarga besar mereka, misalnya dengan ikut dalam perayaan ulang tahun, acara keluarga, ataupun hanya makan bersama.

    Strategi nomor 5 : Berikan Perhatian pada Pasanganmu

    • Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan hati mertua adalah dengan menunjukkan bahwa kamu mencintai dan menghargai pasanganmu. Jika mertua melihat kamu berkomitmen pada hubungan dengan anak mereka, ini akan memberi mereka rasa aman dan mendekatkan hubungan kalian. Hindari terlalu sering komplain tentang kekurangan pasanganmu.
    • Jangan ragu untuk memberikan pujian yang tulus kepada pasanganmu di hadapan mertua. Ini akan menunjukkan bahwa kamu memperlakukan pasanganmu atau anak mereka dengan baik.

    Strategi nomor 6 : Bersikap Sabar dan Mengerti

    • Jika ada ketegangan atau kesalahpahaman, sabar dan beri waktu untuk hubungan bisa berkembang secara alami.
    • Jangan terlalu cepat berharap bahwa hubungan akan menjadi akrab atau dekat secara instan. Proses hidup pasti akan memakan waktu, dan dengan kesabaran, kamu akan semakin dekat.

    Strategi nomor 7 : Tunjukkan Kepedulian dan Bantuan

    • Bantu mertua ketika mereka membutuhkan, bantu mereka jika butuh bantuan dalam pekerjaan rumah, belanja, atau hal-hal kecil lainnya. Tindakan kecil seperti ini dapat menunjukkan bahwa kamu peduli dan siap membantu.
    • Beri perhatian pada kebutuhan mereka, jika kamu tahu mereka memiliki kesukaan atau kebutuhan tertentu, cobalah untuk memberi kejutan yang menyenangkan seperti makanan favorit mereka atau menawarkan untuk menghabiskan waktu bersama mereka.

    Strategi nomor 8 : Jaga Batasan yang Sehat.

    • Setiap hubungan memiliki batasan yang perlu dihormati. Jika ada hal-hal yang membuat kamu tidak nyaman atau ada perbedaan pandangan yang besar, jangan takut untuk mendiskusikannya dengan cara yang sopan dan santun.
    • Pastikan untuk tetap menjaga batasan yang sehat dalam interaksi dengan mertua, terutama terkait dengan masalah pribadi yang mungkin lebih sensitif.

    Membangun hubungan yang baik dengan mertua memerlukan waktu dan usaha dari kedua belah pihak. Dengan sikap yang positif, penuh pengertian, dan komunikasi yang baik, kamu bisa membangun hubungan yang lebih erat dan bersahabat dengan ibu mertua.