
Dalam diamku sebagai seorang introvert kalau kumpul dengan ibu – ibu, aku banyak melihat pemandangan yang membuat aku menganalisa karakter satu persatu dari mereka, tidak ada yang salah dari mereka pastinya, karena setiap manusia memiliki keunikan masing – masing dan tidak ada yang sama satupun.
Sambil makan siang disebuah acara saya mendengar banyak kalimat seperti ini saat kumpul – kumpul,
“eh.. aku jual ini loh tapi ga banyak yang tau cuma iseng – iseng aja, ga usah diomongin ke yang lain yah”
“Pengan kerja deh tapi aku ga mau yang sales gitu, maunya bisnis apa yah yang ga malu – malu in”
“aku harus kerja nih mau bantu kebutuhan rumah tangga yang ga cukup kalau ngandelin suami”
“Mau sih kerja, tapi males.. karena aku kan urus anak dirumah, suami juga ga izinin sih, biar aja dia yang kerja deh, tapi sebenarnya bosen juga yah dirumah, ah bingung”
Ada juga satu orang ibu yang sangat terbuka memberikan info dengan sangat ekspresif “Hallo temen – temen (sambil buka jualannya) ini loh aku bawa barang banyak aku jual, siapa tau ada yang butuh langsung aja diambil dan transfer yah, mumpung aku kasih potongan harga hanya hari ini !. Oh ya aku sudah punya store juga nih di mall xxx, ini cabang pertamaku dan rencana nya dalam satu tahun ini aku akan buka 6 cabang sekaligus, nanti opening cabang kedua aku undang kalian yah, hadir yah.. aku siapkan goody bag yang isinya ada beberapa produk, salah satunya adalah produk milik aku senilai satu juta rupiah!” Oh ya satu lagi, hasil dari penjualan produk aku sisihkan untuk membangun sekolah di desa – desa.
Kalau kita simak beberapa kalimat – kalimat diatas, ada mereka yang masih malu, gengsi, malas tapi ada juga yang sudah lepas dari semua itu mempromosikan jualan nya tanpa beban dan semua yang di ungkapkan sebagai tujuan keberhasilan dari proses yang dihadapi sekarang untuk masa depannya. Menurut saya inilah yang disebut sebagai proses mencapai aktualisasi diri, yaitu konsep psikologis atau kepribadian yang ada pada setiap individu. Kalau pernah tau teori dari seorang psikolog Amerika yaitu Abraham Maslow yang dia namai “hierarki kebutuhan.”

Saya merangkum bahwa pencapaian atau aktualisasi diri ini adalah proses yang harus melewati self worth yaitu self awareness, self love dan self acceptance dengan baik sehingga dapat mencapai self actualization atau aktualisasi diri.

Ini adalah sebagai tolak ukur seorang perempuan yang sudah matang dan dewasa karena ia sudah melewati hirarki kebutuhan (hierarchy of needs) yang terkandung self worth didalamnya tadi agar dapat memaksimalkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai suatu tujuan dalam hidup.
“Life isn’t about finding yourself, life is about creating yourself”
Hakikatnya sejak dilahirkan manusia sudah memiliki nilai atau benih kebaikan, benih ini yang menjadi peluang setiap individu untuk mengembangkannya menjadi potensi yang luar biasa dari dirinya. Untuk mendapatkan kebutuhan yang paling dasar dari mulai mendapatkan kebutuhan sehari – hari, pakaian, makanan, tempat tinggal, rasa aman, rasa diperhatikan, rasa dihargai dan disayang oleh lingkungan nya. Setelah semua ini terpenuhi, ada satu hal yang lebih penting dari itu semua yaitu aktualisasi diri
Suatu kebutuhan yang paling puncak untuk mendapatkan suatu kepuasan atau pencapaian (Achievement), dimana puncaknya sampai kita bisa bilang “yes i did it !!”. Tapi untuk sampai kesana kalau kebutuhan dasar masih belum bisa tercukupi, maka proses individu untuk mencapai aktualisasi diri tersebut pun akan terhambat karena pencapaian aktualisasi diri ini membutuhkan kematangan dan kedewasaan diri.
Contoh, gimana bisa sampai di puncak aktualisasi diri kalau sehari – harinya masih baper, galau, marah – marah, stress, sedih berkepanjangan, banyak komplain sama orang, masih suka curhat di story IG atau sosial media lainnya, keuangan masih berantakan, dsb. Apalagi kalau ibu rumah tangga yang dengan ribetnya urus anak dan suami, belum lagi masalah rumah yang ga ada habisnya. Nah ini semua perlu dilatih dulu sampai akhirnya seorang perempuan menjadi matang dan bisa mencapai aktualisasi diri.
Bukan hanya perempuan yang bekerja di sektor formal saja, ibu rumah tangga pun atau perempuan yang bekerja di sektor informal bisa mencapai aktualisasi diri dengan bekerja dirumah saja (Work From Home). Bekerja WFH di sela – sela mengurus anak – anak, suami dan tugas harian rumah tangga kamu. Apalagi sekarang sudah jaman digitalisasi, jadi lebih mudah untuk melakukan pekerjaan dari rumah saja dan mendapatkan penghasilan agar kamu bisa membantu diri kamu sendiri bahkan keluarga, kalau punya suami itukan tugas suami, yes bener banget !!, tapi ingat aktualisasi diri salah satu syaratnya adalah kita tidak mengandalkan orang lain tapi mandiri dari diri kita sendiri.
..”Nobody is coming to save you, you have to save yourself”.

Mella Noviani
..”Kesalahan terbesar seseorang adalah pada saat ia tidak tahu kalau dia bersalah.”
Banyak yang tidak bisa mencapai aktualisasi ini karena kurangnya self awareness, banyak yang tidak jujur sama dirinya sendiri apa yang perlu di upgrade dalam dirinya. Banyak perempuan yang selalu merasa “saya, saya dan saya sudah benar dan kamu salah!”.
Kalau humble jujur pada diri kita sendiri serta mau mengetahui apa kesalahan, kelemahan dan kekurangan kita, selanjutnya dibutuhkan kemauan untuk membuat rencana dan tujuan hidup yang spesifik serta terukur.
1. Self-awareness (introspeksi diri), introspeksi diri sangatlah penting karena ini adalah proses mengenali diri sendiri dengan jujur dan objektif, dengan cara ini kamu dapat mengevaluasi kelebihan, kelemahan, serta nilai-nilai dan tujuan hidupmu. Jika kamu tidak mengenali diri seperti apa kekurangan dan kelemahanmu maka sulit untuk kamu fokus pada apa yang harus di ubah dan di upgrade dari dirimu dengan cara meng-upgrade diri melalui belajar, membaca buku, dll.
2. Positive community, memiliki komunitas yang positif sangatlah penting agar dapat ber interaksi dengan lingkungan yang positif dan manfaatnya dapat meningkatkan kualitas hidup, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dapat membantu kamu untuk meningkatkan rasa percaya diri, kepuasan hidup, serta memperluas jaringan sosial dan pengetahuan.
3. Emotional quotient – EQ, Kecerdasan emosional, agar dapat menerima, menilai, serta mengelola emosi.
