Family oriented – Mindset Perempuan

“The greatest act of love is to bring each other closer to Allah”

“Pernikahan itu indah jika kamu menemukan pasangan yang tepat, jika tidak.. kamu akan merasa selalu di situasi seperti Covid – 19.
..”Setiap hari kasus baru!”

  • Memaafkan bukan untuk orang lain tetapi untuk mencintai diri kamu, karena saat kamu memaafkan dengan tulus kamu akan lepas dari segala tekanan yang dapat merusak tubuhmu luar dan dalam.

    Mella Noviani

    Kepribadian seseorang sering terlihat saat mereka marah!, saat marah dan emosi memuncak topeng kebaikan yang mereka gunakan tiba tiba hilang dan terlihat sisi asli dari pribadi tersebut. Ada yang tetap tenang, diam berpikir, atau hilang kendali. Disinilah terlihat ujian karakter yang menunjukan apakah mereka tulus dengan sungguh – sungguh selama ia terlihat baik atau hanya situasional saja terlihat baik.

    Masih suasana lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal 1446 H tepatnya hari Senin tanggal 31 Maret 2025. Saat saya ngabuburit puasa hari terakhir di meja kerja sambil melihat keluar terlintas mundur kebelakang ( flashback) sebuah tradisi masyarakat Indonesia yaitu tradisi dimana setiap orang akan bersalaman meminta maaf setelah menunaikan shalat ied di mesjid dan WA mulai dibanjiri dengan ucapan – ucapan kata permohonan maaf. Setiap orang mengucapkan Minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin, sebuah tradisi yang indah dan ditambah keseruan kumpul keluarga dengan seluruh kerabat.

    Karena banyak teman tahu bahwa saya suka menulis, kadang beberapa dari mereka meminta bantuan untuk dibuatkan kata – kata ucapan, dan pesan sponsornya adalah “tolong buatin yah, tapi jangan keliatan kayak “copy paste”. Yang tadinya saya juga selalu ikut membuat dan mengirimkan kesemua orang, sampai akhirnya saya menyadari sesuatu sekarang bahwa saya lebih senang dengan hal – hal yang sangat personal jadi saya mulai mengurangi rangkaian kata – kata template itu. Tentang rangkaian kata – kata template ini saya berpikir, setiap tahun saya mengirimkan atau menerima kata – kata yang sangat template dan dari rangkaian template itu apakah semua orang benar – benar tahu dan mengalami yang sesungguhnya dari kata maaf tersebut karena setelah hari raya lewat saya masih terus melihat banyak pembenci diluar sana.

    Daripada membuat template, saya lebih senang hal – hal personal seperti menuliskan dengan kata – kata pendek hasil ketikan yang ada dari hati atau bertemu langsung silaturahmi secara personal dengan melihat mata, memeluk, berjabat tangan, dan menggali dengan percakapan santai, dengan hal itu saya merasakan maaf lahir batin yang tulus.

    Kurang lebih 10 tahun lalu saya pernah merasakan kesal, kemarahan, benci, sampai bahkan rasa ingin mengakhiri hidup saya yang disebabkan oleh ulah dari pasangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Saat itu saya merasa tidak berharga, tidak berguna, tidak ada yang mencintai saya bahkan saya merasa sangat rendah. Setiap kali semua itu terjadi rasanya benar – benar menyiksa dan hilang fokus serta hilang kendali, sulit berpikir jernih dan bahkan tidak ingin melakukan aktifitas apapun. Tapi saat pasangan saya datang memegang tangan, memeluk dan mengatakan dengan lembut “saya minta maaf, saya tau saya salah”..please kita stop dan perbaiki hubungan ini. Tiba – tiba saya merasa sebuah proteksi atau perlindungan itu datang, rasa kesal, marah dan semuanya itu tiba – tiba hilang, hilang fokus dan hilang kendali tadi berubah menjadi seperti air laut yang tenang dan menenangkan.

    Saat saya berbagi dengan teman – teman tentang cerita ini, mereka menanggapi bahwa mereka kurang setuju dengan pengalaman pribadi yang saya ceritakan. Mereka mengatakan ” enak aja, ga bisa saya, ga bisa maafin begitu saja, kalau saya jadi kamu pasti saya tepiskan saat dia mau peluk dan minta maaf, langsung tinggalin dia dulu, kasih dia pelajaran sampai dia sadar”.

    Dari ketidak setujuan teman – teman saya ini, saya tetap setuju dulu dengan mereka bahwa benar apa yang mereka bilang bahwa yang menyakiti kita harus diberi pelajaran dan harus sadar apa yang ia sudah lakukan. Tetapi sebenarnya saat pasangan sudah berani datang dan mengatakan minta maaf, ia sudah sangat melakukan hal yang tidak semua orang bisa melakukannya, tindakan ini sangat bijaksana dan artinya ia menyadari bahwa ia salah, atau sedang dalam cara penyelesaian konflik yang salah pada kita. Saatnya kita sebagai pasangan bisa melanjutkan komunikasi bersama dengan benar agar kesalahan itu tidak terulang lagi.

    Dari sisi psikologi kemarahan yang memuncak adalah bentuk sebuah ego yang tidak terkontrol, kita bisa melihat seperti apa orang yang memiliki ego tinggi dan mengakibatkan sulit memaafkan hingga menyimpan emosi yang tidak stabil :

    • Mereka mengalami kesulitan berempati dengan pasangan atau orang lain karena luka batin, akhirnya cenderung mempertahankan rasa marah dan dendam sebagai perlindungan diri.
    • Sulit mengatakan maaf kepada pasangan karena merasa bahwa memaafkan berarti membenarkan perbuatan orang lain.
    • Cenderung selalu menyalahkan pasangan atau orang lain, memberi maaf dianggap sebagai bentuk kelemahan atau merendahkan diri.
    • Memiliki perilaku angkuh, merasa penting, dan selalu merasa berhak, sementara pasangannya atau orang lain tidak, karena ada rasa kebutuhan akan kontrol atau kendali atas orang lain agar ia dapat memprioritaskan keinginannya di atas kebutuhan pasangan atau orang lain.
    • Sulit berkompromi, perilaku yang tidak mau mengalah atau mencari jalan tengah dalam suatu situasi karena kurangnya keterampilan regulasi emosi yang membuat mereka sulit mengelola emosi negatif nya seperti marah dan kecewa, sehingga mereka menahan perasaan itu dibanding harus memproses dan melepaskannya.

    Hal ini dapat menyebabkan masalah dalam hubungan pribadi dan profesional, serta kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif. Ego yang berlebihan dapat membuat masalah kesehatan mental atau gangguan kepribadian. Salah satu contoh gangguan kepribadian yang dimaksud adalah gangguan kepribadian narsistik dan antisosial.

    Narsistik atau antisosial adalah gangguan kepribadian yang memiliki tingkat ego yang tinggi, terpaku pada keinginannya sendiri dan tidak peduli kebutuhan orang lain.

    Mella Noviani

    Saat pasangan merasa kesal, sedih, lelah, menangis, bad mood, yang disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor eksternal maupun internal, sebenarnya mereka hanya membutuhkan perlindungan yang nyaman yaitu kehadiran, bahasa yang lembut ditelinga, genggaman tangan, tatapan mata yang tulus, atau pelukan yang menenangkan daripada sebuah nasihat atau perkataan.

    “Terkadang satu pelukan lebih berharga daripada ribuan kata yang di ucapkan.”

    Beberapa tahun lalu saat saya masih berstatus single parent atau ibu tunggal untuk anak saya, dimana saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan pasangan yang tepat, saat itu juga saya bertanya – tanya dalam hati, sebenarnya pasangan yang tepat itu seperti apa. Karena sembilan dari sepuluh pasangan yang saya lihat seperti paradoks dalam cinta, paradoks dimana dua manusia menjadi satu dalam pernikahan, tetapi kehidupan mereka didalam rumah adalah tetap dua.

    Dalam hati kecil saya lagi apakah keinginan saya dalam sebuah pernikahan yang selalu ingin menjadi satu dan bersama – sama itu adalah sebuah ke-lebayan seperti yang dikatakan oleh anak – anak jaman now ? Tapi apapun yang mereka katakan saya tetap memegang prinsip bahwa “pernikahan adalah satu tubuh dimana artinya sebuah pernikahan adalah ketika cinta bukan lagi tentang SAYA atau KAMU tetapi tentang KITA dan banyak orang”, pandangan saya saat kita memiliki prinsip bahwa kita bisa membalikan kata ME menjadi WE hubungan yang sehat akan terasa mudah didapat.

    “Tidak memaafkan karena hati dan pikiran yang lemah, penuh maaf adalah seorang yang sabar dan kuat.”

    Mella Noviani

    Saat masing – masing pasangan dalam pernikahan kita memiliki prinsip Me menjadi We kita akan memiliki pandangan yang sama yaitu :

    • Bersama – sama saling memberikan ruang untuk mengasihi dan mencintai dengan mengizinkan pasangan kita berkembang menjadi dirinya sendiri. Bersama – sama berdua hadir dalam sebuah perjalanan yang penuh makna, tidak saling menyempitkan ruang tapi justru berada diruang yang sangat luas tanpa saling membatasi. Setiap pasangan dapat bergerak dengan pengertian masing – masing yang dewasa. Memiliki prinsip bahwa Saya ingin orang yang saya cintai tumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri, dan dengan caranya sendiri. Kebetadaan pasangan bukan untuk melayani saya, tapi saya mau melayani pasangan dengan ikhlas dan tulus.
    • Bersama – sama bisa menerima dengan tidak ingin mengubah pasangan sesuai dengan harapan kita tapi kita menjadi inspirasi yang baik agar pasangan dapat menjadi pasangan yang sesuai dengan harapan kita. Karena “lead by example” atau kita menjadi contoh yang baik (Role Model) akan menjadi inspirasi untuk pasangan atau orang lain dan bisa menjadi seperti yang kita harapkan. Dalam mencintai kita membiarkan pasangan tetap menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan, tanpa tuntutan, ancaman dan ketakutan akan kehilangan. dalam mencintai kita juga tidak kehilangan diri kita dan juga tidak meminta orang lain menjadi kehilangan dirinya.
    • Bersama – sama bisa selalu hadir tanpa mengendalikan, kita tidak perlu mengendalikan pasangan agar tetap mencintai kita tapi sebaliknya kita hanya hadir dengan tanpa tuntutan.

    Ciri – ciri orang yang memiliki ego tinggi :

    • Mendominasi percakapan dan menyela orang lain yang sedang bicara.
    • Terlalu kritis atau meremehkan pendapat orang lain.
    • Mengharapkan perlakuan khusus dari orang lain.
    • Tidak peka terhadap perasaan atau kebutuhan orang lain.
    • Mengambil pujian atas pekerjaan atau ide orang lain.

    Memaafkan memang bukan cara yang instant, tapi ada langkah – langkah untuk melatih pikiran dan tindakan kita agar kita bisa memiliki kemampuan untuk memaaafkan.

    • Berlatih untuk mendengarkan orang lain secara aktif agar benar – benar dapat mendengar dan memahami perspektif pasangan atau orang lain, mengapa pasangan sampai membuat kesalahan itu (apakah karena ketidak tahuan atau karena luka batin mereka sendiri, atau mungkin karena ketidakmampuan emosionalnya). Ini sangat bisa membantu kamu mencairkan sedikit rasa kesal dan kecewamu, ajukan pertanyaan terbuka, dorong pasangan untuk berbagi pikiran dan perasaan mereka dengan lembut tanpa emosi. Akui dan rasakan luka yang ada pada hatimu, jangan bilang ga apa – apa saya ga sakit hati. Tapi tidak ada salahnya akui dengan mengatakan sebenarnya saya sakit hati, kecewa, marah atau merasa di khianati. Rasakan emosi itu karena itu adalah bagian awal dari sebuah proses tapi ingat itu hanya proses awal.
    • Mulai buka hati untuk memaafkan dan pahami alasan kamu ingin memaafkan agar kamu damai secara emosional, bebas dari beban dendam,
    • Pisahkan individu yang membuat kamu kecewa dengan perbuatannya, artinya kamu boleh benci perbuatannya tapi jangan membenci individunya (pasangan atau orang lain). karena mereka adalah manusia yang juga bisa salah, lemah atau belum memiliki kemampuan kuat untuk menghadapi dunia ini.
    • Tunjukkan empati dan pengertian, akui emosi orang lain dan validasi pengalaman mereka.
    • Lepaskan kebutuhan untuk “mendapat balasan” karena itu akan menyakitkan hati, pikiran dan tubuh kamu, semua itu akan membentuk ikatan emosional yang akan buat kamu terhubung dengan luka dan kecewa jangka panjang. Ketika kamu melepaskan dan membuang jauh – jauh untuk tidak membalas dendam maka kamu akan bebas.
    • Jika kamu bukanlah orang yang bisa berkata – kata, kamu bisa coba dengan menulis surat atau WA atau apapun dalam bentuk tulisan, ekspresikan semua perasaanmu tanpa sensor karena ini adalah katarsis yang mendalam.
    • Putuskan untuk memaafkan walaupun kamu merasa belum “merasa”. Terkadang keputusan untuk memaafkan datang duluan daripada rasa damainya. Saat kamu putuskan dengan tulus kamu mau memaafkan maka damai dan mujizat akan datang berangsur – angsur setiap harinya.
    • Cari umpan balik, mintalah kritik membangun untuk diri kamu juga dari orang lain agar dapat membantu kamu lebih bertumbuh dan berkembang.

    Memaafkan bukan berarti kamu membenarkan perlakuan orang lain, bukan berarti kamu salah, bukan berarti kamu rendah, dan bukan berarti masalah berlalu begitu saja, pikirkan tiga hal. Pertama kamu harus merdeka dari keterikatan kebencian agar kamu sehat, kedua mengapa masalah itu bisa terjadi, dan bagaimana cara agar masalah itu tidak terjadi lagi. Ketiga pelajaran apa yang saya dapat dari masalah yang baru saja terjadi dan saya maafkan, agar saya mendapatkan ilmu dan bisa menjadi inspirasi untuk banyak orang.

    Mella Noviani
  • Mella Noviani


    Saat saya ngopi cantik dengan seorang teman saya Claudia, saya bisa membaca raut wajah teman saya ini sedang ada masalah tapi hebatnya ia tetap fokus dengan pembahasan bisnis yang sedang kami bicarakan berdua sambil ngopi. Tiba – tiba saya melihat handphone nya ringing dan nama yang terlihat di screen hp adalah “My love”.

    Claudia minta izin untuk angkat telp dan saya melanjutkan untuk menikmati jus jeruk yang saya pesan. Saya melihat dari arah belakang, karena ia mengangkat telp membelakangi saya, Claudia terlihat sangat marah, saya bisa lihat dari gerak tangan dan bafannya. Saat Claudia balik badan ia berteriak dengan sangat emosional mengatakan “tidak pantas kamu perlakukan ini terhadap saya!” lalu menutup pembicaraan dengan menekan tombol hp dengan sedikit keras.

    Claudia kembali ke maja dan melihat saya sambil mengangkat kedua pundaknya. Saya hanya diam dan melempar senyum sambil mendengar Claudia mengatakan masih dengan emosional, bahwa suaminya ini banyak mengecewakan dia dan ekonomi keluarga yang sedang tidak baik, akhirnya teman saya closing dengan mengatakan “Ok, Mel maaf yah yuk kita lanjutkan lagi pembahasan kita”.

    I’ve been there!!, saya pernah rasakan ini kurang lebih 30 tahun lalu saat saya usia 20 tahun, saya marah sekali kepada kekasih saya saat itu. Tapi saya banyak melakukan self-reflection sampai akhirnya saya menyadari bahwa ternyata pernikahan itu bukan tentang diri saya sendiri tapi tentang orang lain dan orang banyak.

    Setiap masalah yang terjadi dalam pernikahan dibutuhkan dua orang yang mau berubah dan selaras berjalan bersama untuk berkomitment dilandaskan sebuah kasih dalam setiap perjalanan untuk mencapai perubahan itu. Jika hanya satu orang yang menuntut perubahan pastinya tidak akan terjadi sebuah perubahan yang hakiki dalam berpasangan.

    Sampling : Seorang ibu bilang kepada suaminya, kamu jangan lakukan A saya tidak suka, tapi sang ibu tidak memberikan kebutuhan A itu pada suami nya.

    Pernikahan adalah landasan ideal sebuah keluarga maka menikah bukanlah karena adanya sebuah alasan, motivasi atau suatu kepentingan diri seperti harus punya anak, harus ngikutin maunya orang tua, untuk harta, atau untuk sebuah kebahagiaan dan kebutuhan kita akan selalu terpenuhi dengan menikah. Tapi sebaliknya bagaimana kita merespon jika sebaliknya dalam pernikahan mendapatkan situasi atau kondisi yang sepertinya tidak pantas, tidak seharusnya atau terkadang situasi sangat sulit melanda dan hubungan mengalami cobaan. Sebagai perempuan kita harus bijaksana untuk me-refleksikan diri, apakah kita benar – benar tidak pantas menerima itu semua atau justru kita dipantaskan oleh Allah untuk menerima sebuah masalah agar kita bisa melihat dari masalah yang ada justru kita akan mendapatkan dan merasakan arti dari sebuah makna kehidupan dan hikmah yang dapat kita pelajari.

    Mella Noviani

    Selama saya hidup mengalami masalah yang beraneka ragam dan mendengar keluh kesah dari teman – teman atau keluarga. Saya mengamati, mencerna dan merenungkan bahwa semua yang terjadi dalam hubungan pernikahan itu adalah ego. Ego kita yang harus ditekan serendah – rendahnya agar bisa memulai masuk dan menciptakan hubungan yang sehat. Hubungan yang sehat memiliki dasar prinsip komitment yaitu prinsip 4M.

    Dimulai dari MEMAHAMI, bagaimana kita bisa memahami dengan hati, salah satu cara untuk kita bisa memahami adalah dengan lebih sering mendengarkan pasangan berbicara tanpa kita langsung interupsi dulu. Mendengar tanpa menilai terlalu cepat adalah cara kita memahami sudut pandang pasangan sepenuhnya, karena setiap individu pastinya memiliki sudut pandang berbeda – beda. Jadi dengarkan, cerna, amati dan pahami.

    Saat kita bisa mendengar pasangan dengan tidak interupsi atau menilai terlalu cepat itu artinya kita sedang MENGHORMATI pasangan. Dalam cerita atau pembicaraan pasangan, tidak sedikit yang kadang biasanya kita tidak setuju. Tetapi dalam hal ini kita harus membiasakan belajar berusaha untuk “setuju dulu dengan ketidak setujuan kita”, kita belajar untuk tidak langsung menegur atau mengajarkan bagaimana sebenarnya yang benar pada pasangan, karena jika kita langsung menegur artinya kita menjatuhkan harga diri pasangan. Perlakuan kita untuk tidak menegur pasangan saat ia berbicara, menegur didepan orang jika ia salah, bertengkar didepan anak – anak, mengumbar kekurangan pasangan di media sosial, cara – cara ini adalah konsep kita MENERIMA pasangan dengan segala kekurangannya. Menerima pasangan dengan tulus dan Ikhlas, semua kekurangan pasangan cukup kita yang mengetahui dan bersama – sama memperbaiki hubungan dengan benar, jika bersama – sama memiliki pengertian dan mau melakukan 3 konsep prinsip diatas yaitu memahami, menghormati, menghargai, maka dari semua ini kita dapat menjalani konsep prinsip yang keempat yaitu hubungan yang saling MENGHARGAI.

    “Ingin mengetahui ISI PIKIRAN pasangan kita dengarkan kata – katanya, ingin mengetahui ISI HATI pasangan kita, perhatikan Tindakan nya.”

    Cinta adalah kekuatan, lebih besar daripada segala hal lainnya. Cinta tidak menyakiti dan menilai, cinta dapat mengatasi perbedaan, kesalahan, dan kesulitan dalam hidup karena esensi dari cinta adalah berkorban. Meskipun hubungan atau situasi dapat mengalami kegagalan sementara, cinta sejati tidak akan pernah benar-benar gagal. Sebaliknya, cinta akan terus berusaha tumbuh dan bertahan – Unconditional love.
    Jika kita bicara unconditional love dibenak kita pasti ini bicara tentang pengorbanan, dimana kalau kita bicara keluarga pasti didalamnya penuh dengan pengorbanan, kita pasti sering yah melihat kontent tentang hubungan pernikahan yang seliweran di sosial media, sebut saja tik tok atau IG yang mengatakan “pernikahan itu 70% isinya adalah tentang ngobrol.” Tidak ada yang salah dari kalimat itu tapi ngobrol sehari – haripun butuh pengorbanan bukan, pengorbanan apa ? jawabannya adalah pengorbanan untuk menurunkan ego ! jadi pastinya pengorbananlah yang pertama harus kita perjuangkan.

    Dalam pernikahan pasti masing – masing mengemban tugas yang namanya “berkorban”, pasti kedua nya berkorban, keduanya bekerja atau yistri  dirumah mengurus rumah tangga dan suami bekerja diluar, tidak ada yang berkorban sendirian. Hanya kadang masing masing melihat sepertinya “saya berkorban dan kamu tidak”, padahal keduanya pasti berkorban, hanya ego yang tinggi yang bilang “”saya berkorban dan kamu tidak” 

    “Meminta maaf untuk membebaskan kita, bukan membebaskan orang lain, tidak mudah untuk yang belum terbiasa tapi bisa untuk yang mau mulai mencoba”

    Meminta maaf juga adalah sebuah pengorbanan, jika pasanganmu melakukan kesalahan maafkan, jika kita yang melakukan kesalahan mintalah maaf, saya tahu tidak mudah buat kamu yang belum terbiasa, tapi saya percaya pasti bisa untuk yang kamu yang mau berkorban untuk mencoba.

    Terimakasih sudah membaca dan tidak pernah ada kata terlambat untuk mencoba serta memperbaiki hubunganmu bersama pasangan.

    Setiap perempuan memiliki cerita untuk diceritakan, dan setiap cerita memiliki kekuatan untuk menginspirasi serta mengangkat orang lain. Saya percaya jika kamu membagikan pikiran positif atau cerita pendek tentangmu di kolom koment, kamu akan membantu banyak perempuan – perempuan di Indonesia, dan lihat bagaimana cerita singkatmu dapat mengubah perempuan dan dunia.

    Aku mencintaimu semua perempuan Indonesia




  • Dalam diamku sebagai seorang introvert kalau kumpul dengan ibu – ibu, aku banyak melihat pemandangan yang membuat aku menganalisa karakter satu persatu dari mereka, tidak ada yang salah dari mereka pastinya, karena setiap manusia memiliki keunikan masing – masing dan tidak ada yang sama satupun.

    Sambil makan siang disebuah acara saya mendengar banyak kalimat seperti ini saat kumpul – kumpul,

    “eh.. aku jual ini loh tapi ga banyak yang tau cuma iseng – iseng aja, ga usah diomongin ke yang lain yah”

    “Pengan kerja deh tapi aku ga mau yang sales gitu, maunya bisnis apa yah yang ga malu – malu in”

    “aku harus kerja nih mau bantu kebutuhan rumah tangga yang ga cukup kalau ngandelin suami”

    “Mau sih kerja, tapi males.. karena aku kan urus anak dirumah, suami juga ga izinin sih, biar aja dia yang kerja deh, tapi sebenarnya bosen juga yah dirumah, ah bingung”

    Ada juga satu orang ibu yang sangat terbuka memberikan info dengan sangat ekspresif “Hallo temen – temen (sambil buka jualannya) ini loh aku bawa barang banyak aku jual, siapa tau ada yang butuh langsung aja diambil dan transfer yah, mumpung aku kasih potongan harga hanya hari ini !. Oh ya aku sudah punya store juga nih di mall xxx, ini cabang pertamaku dan rencana nya dalam satu tahun ini aku akan buka 6 cabang sekaligus, nanti opening cabang kedua aku undang kalian yah, hadir yah.. aku siapkan goody bag yang isinya ada beberapa produk, salah satunya adalah produk milik aku senilai satu juta rupiah!” Oh ya satu lagi, hasil dari penjualan produk aku sisihkan untuk membangun sekolah di desa – desa.

    Kalau kita simak beberapa kalimat – kalimat diatas, ada mereka yang masih malu, gengsi, malas tapi ada juga yang sudah lepas dari semua itu mempromosikan jualan nya tanpa beban dan semua yang di ungkapkan sebagai tujuan keberhasilan dari proses yang dihadapi sekarang untuk masa depannya. Menurut saya inilah yang disebut sebagai proses mencapai aktualisasi diri, yaitu konsep psikologis atau kepribadian yang ada pada setiap individu. Kalau pernah tau teori dari seorang psikolog Amerika yaitu Abraham Maslow yang dia namai “hierarki kebutuhan.”

    Saya merangkum bahwa pencapaian atau aktualisasi diri ini adalah proses yang harus melewati self worth yaitu self awareness, self love dan self acceptance dengan baik sehingga dapat mencapai self actualization atau aktualisasi diri.

    Ini adalah sebagai tolak ukur seorang perempuan yang sudah matang dan dewasa karena ia sudah melewati hirarki kebutuhan (hierarchy of needs) yang terkandung self worth didalamnya tadi agar dapat memaksimalkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya untuk mencapai suatu tujuan dalam hidup.

    “Life isn’t about finding yourself, life is about creating yourself”

    Hakikatnya sejak dilahirkan manusia sudah memiliki nilai atau benih kebaikan, benih ini yang menjadi peluang setiap individu untuk mengembangkannya menjadi potensi yang luar biasa dari dirinya. Untuk mendapatkan kebutuhan yang paling dasar dari mulai mendapatkan kebutuhan sehari – hari, pakaian, makanan, tempat tinggal, rasa aman, rasa diperhatikan, rasa dihargai dan disayang oleh lingkungan nya. Setelah semua ini terpenuhi, ada satu hal yang lebih penting dari itu semua yaitu aktualisasi diri

    Suatu kebutuhan yang paling puncak untuk mendapatkan suatu kepuasan atau pencapaian (Achievement), dimana puncaknya sampai kita bisa bilang “yes i did it !!”. Tapi untuk sampai kesana kalau kebutuhan dasar masih belum bisa tercukupi, maka proses individu untuk mencapai aktualisasi diri tersebut pun akan terhambat karena pencapaian aktualisasi diri ini membutuhkan kematangan dan kedewasaan diri.

    Contoh, gimana bisa sampai di puncak aktualisasi diri kalau sehari – harinya masih baper, galau, marah – marah, stress, sedih berkepanjangan, banyak komplain sama orang, masih suka curhat di story IG atau sosial media lainnya, keuangan masih berantakan, dsb. Apalagi kalau ibu rumah tangga yang dengan ribetnya urus anak dan suami, belum lagi masalah rumah yang ga ada habisnya. Nah ini semua perlu dilatih dulu sampai akhirnya seorang perempuan menjadi matang dan bisa mencapai aktualisasi diri.

    Bukan hanya perempuan yang bekerja di sektor formal saja, ibu rumah tangga pun atau perempuan yang bekerja di sektor informal bisa mencapai aktualisasi diri dengan bekerja dirumah saja (Work From Home). Bekerja WFH di sela – sela mengurus anak – anak, suami dan tugas harian rumah tangga kamu. Apalagi sekarang sudah jaman digitalisasi, jadi lebih mudah untuk melakukan pekerjaan dari rumah saja dan mendapatkan penghasilan agar kamu bisa membantu diri kamu sendiri bahkan keluarga, kalau punya suami itukan tugas suami, yes bener banget !!, tapi ingat aktualisasi diri salah satu syaratnya adalah kita tidak mengandalkan orang lain tapi mandiri dari diri kita sendiri.

    ..”Nobody is coming to save you, you have to save yourself”.

    Mella Noviani

    ..”Kesalahan terbesar seseorang adalah pada saat ia tidak tahu kalau dia bersalah.”

    Banyak yang tidak bisa mencapai aktualisasi ini karena kurangnya self awareness, banyak yang tidak jujur sama dirinya sendiri apa yang perlu di upgrade dalam dirinya. Banyak perempuan yang selalu merasa “saya, saya dan saya sudah benar dan kamu salah!”.

    Kalau humble jujur pada diri kita sendiri serta mau mengetahui apa kesalahan, kelemahan dan kekurangan kita, selanjutnya dibutuhkan kemauan untuk membuat rencana dan tujuan hidup yang spesifik serta terukur.

    1. Self-awareness (introspeksi diri), introspeksi diri sangatlah penting karena ini adalah proses mengenali diri sendiri dengan jujur dan objektif, dengan cara ini kamu dapat mengevaluasi kelebihan, kelemahan, serta nilai-nilai dan tujuan hidupmu. Jika kamu tidak mengenali diri seperti apa kekurangan dan kelemahanmu maka sulit untuk kamu fokus pada apa yang harus di ubah dan di upgrade dari dirimu dengan cara meng-upgrade diri melalui belajar, membaca buku, dll.

    2. Positive community, memiliki komunitas yang positif sangatlah penting agar dapat ber interaksi dengan lingkungan yang positif dan manfaatnya dapat meningkatkan kualitas hidup, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dapat membantu kamu untuk meningkatkan rasa percaya diri, kepuasan hidup, serta memperluas jaringan sosial dan pengetahuan.

    3. Emotional quotient – EQ, Kecerdasan emosional, agar dapat menerima, menilai, serta mengelola emosi.

  • RANTAI KEBAHAGIAAN

    Biasanya anak kecil selalu memikirkan hal – hal yang membuat dia senang, tapi tidak pada saya saat saya menjadi anak kecil. Saat kecil meranjak dewasa disaat semua teman – teman saya janjian pergi main sepatu roda saya justru mencari alam dan diam berpikir. Kalau teman saya bilang saat itu saya “semedi” membuat saya senyum jika saya mengingat kenangan itu. Sering saya berjalan sendirian berpikir kenapa saya serumit ini harus selalu memikirkan untuk apa saya ada didunia ini, mengapa begini dan mengapa begitu. Kenapa saya tidak seperti teman – teman saya yang easy going dan fokus bahagia bermain. Berapa banyak saya melihat dengan mata kepala saya sendiri masalah keluarga dari teman – teman, tetangga bahkan keluarga saya sendiri. Saya berpikir apa sih jawaban dalam mencari kebahagiaan didalam rumah sebenarnya ?

    Sejak saat itu saya sering kritis bertanya pada teman – teman saya, apa arti kebahagiaan dalam rumah untuk kamu ? jawaban mereka semua berbeda membuat saya sebagai remaja bingung dan semakin saya tidak menemukan arti kebeahagiaan itu sendiri. Sampai saya dewasa, menjalani rumah tangga dan gagal, sayapun masih bertanya – tanya apa arti kebahagiaan. Sampai saya flashback kembali pada anak – anak remaja jaman NOW, apa arti kebahagaiaan dalam keluarga atau pernikahan menurut mereka. Setelah saya merangkum hasil dari banyaknya jawaban mereka, akhirnya saya mendapatkan rangkuman sebuah frasa yaitu “Rantai kebahagiaan”.

    Mereka bilang rantai kebahagiaan itu diawali dengan cinta, kemudian masuk fase pernikahan dengan mimpi sebuah perayaan pernikahan yang dimulai dari lamaran sampai acara besar digedung mewah. Kemudian dilanjutkan dengan kehadiran bayi yang lucu dalam hidup mereka dan mereka mempersiapkan bayi itu menjadi anak – anak yang harus mendapatkan pendidikan tinggi, bahkan harus lebih tinggi dari mereka sebagai orang tua. Dan terakhir mereka berdoa mendapatkan menantu yang bisa membahagiakan anak – anak mereka agar tidak susah seperti mereka sebagai orang tuanya.”

    Inilah gambaran kebahagiaan atau sebuah blueprint kehidupan keluarga yang bahagia dan sukses. Fakta nya didalam berjalan nya “Rantai kebahagiaan” ini, para suami istri banyak menghabiskan waktu dengan banyak stress, konflik dan kasus – kasus dalam perjalanan rumah tangganya. Mereka berupaya mempertahankan hubungan demi anak – anak tidak kecewa dan status “keluarga yang utuh” tetap ada bukan sebaliknya berusaha untuk berupaya memiliki hubungan yang sehat. Pertahanan mereka banyak yang gagal karena hal itu hanya seperti bomb waktu yang akhirnya pasangan suami istri tidak tahan akhirnya berpisah atau bercerai bahkan sebelum rantai kebahagiaan itu berakhir yaitu di fase anak – anaknya mendapatkan menantu.

    Pendapat saya bahwa “pernikahan adalah landasan ideal sebuah keluarga yang dirancang Allah”. Itulah sebabnya – seharusnya dalam pernikahan yang menjadi prioritas suami istri adalah “kesehatan hubungan mereka” (Health Relationship) diatas semua rangkaian mimpi atau “Rantai kebahagiaan” tadi atau status “keluarga yang utuh”.

    Tidak sedikit dari pasangan suami istri yang sampai sekarang mereka masih memperjuangkan pernikahannya tetapi saat saya bertanya apa goal nya, kebanyakan jawaban yang saya dengar adalah “bertahan demi anak – anak”. Pasangan suami istri hidup berumah tangga hanya menjadi ayah dan ibu dihadapan anak – anaknya tapi bukan hidup sebagai suami istri yang utuh dan dengan hubungan yang sehat”.

    Dari semua inilah saya mempelajari dengan sangat keras teori dan praktek untuk mendapatkan arti atau makna dari apa yang dinamakan dengan pernikahan dengan hubungan yang sehat, dan apakah “rantai kebahagiaan” dalam keluarga itu benar – benar membuat keluarga bahagia ? Ternyata dari banyak kasus yang saya pernah tangani dan kasus yang merebak diluar sana bahwa sesungguhnya “pernikahan dengan hubungan yang sehatlah yang membuat keluarga bahagia lahir dan batin”.

    Saya memiliki mimpi untuk menciptakan sebuah program yang dapat membuat perempuan bisa memiliki mindset yang benar agar dapat melindungi diri dan mendapatkan mental yang sehat dalam kehidupan pernikahannya.

    “Pernikahan membutuhkan cinta dengan ribuan pertimbangan dan pengertian tanpa penghakiman”.

    MellaNoviani #MindsetPerempuan

    Selamat membaca tulisan yang saya tulis, semoga saya dapat berkontribusi untuk membuat perempuan dengan mindset yang sehat dan mendapatkan pernikahan dengan hubungan yang sehat.

    “Sakinah – Mawaddah – Warohmah