
Refleksi Psikologis atas Tragedi Nizam Syafei
Kepergian Nizam Syafei (NS), anak 12 tahun yang diduga dipaksa minum air panas oleh ibu tirinya hingga mengalami pembengkakan pada organ vitalnya, bukan sekadar berita kriminal saja tapi juga adalah cermin sosial. Cermin yang memantulkan pertanyaan yang lebih dalamapakah setiap orang yang cukup usia benar – benar siap menjadi orang tua?
Tragedi ini tidak berdiri sendiri, tragedi seperti ini berakar pada persoalan yang tidak terlihat namun sangat berbahaya, kegagalan orang dewasa mengelola emosi dan luka batin mereka sendiri sehingga siapapun bisa menjadi korbannya.
Orang Tua Bukan Soal Usia, Tapi Kematangan Psikologis
Masyarakat kita masih memandang menjadi orang tua sebagai fase otomatis dalam siklus kehidupan, jika sudah cukup usiamaka seseorang dianggap siap menikah dan boleh mengasuhPadahal, secara psikologis, menjadi orang tua menuntut kapasitas yang jauh lebih kompleks salah satunya adalah menuntut calon orang tua memiliki kecerdasan emosi.
Kecerdasan emosi bukan sekadar mampu menahan marah saja, tapi mencakup kemampuan untuk dapat:
- Mengenali luka emosiaonal masa kecil, masa lalu dan mengenali emosi diri tanpa menyangkalnya
- Mengelola dorongan sifat yang agresif atau impulsif serta tidak manipulatif
- Memiliki empati pada pengalaman emosional anak – anak
- Mengambil tanggung jawab tanpa defensif
- Mampu bertanggung jawab pada kesalahan dan mampu berkata untuk meminta maaf tanpa merasa kehilangan harga diri
Tanpa kapasitas ini, relasi orang tua dan anak berpotensi berubah menjadi relasi kuasa atau kontrol yang sangat kuat,bukan relasi kasih antara orang tua dan anak.
Ketika Empati Tidak Berkembang
Dalam psikologi perkembangan, empati bukan sifat bawaan yang muncul otomatis atau (Nature) tapi semua itu dibentuk oleh pengalaman relasi yang aman dan penuh validasi sejak kecil, pengalaman belajar melalui akademik maupun kehidupan (Nurture)
Individu yang tumbuh dalam pola asuh keras, manipulatif, atau penuh kritik kronis yang sangat destruktif, sering kali mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Mereka belajar bertahan, bukan belajar merasakan, emosi ditekan, bukan dipahami. Maka banyak sekali dari ledakan emosi pada akhirnya menimbulkan korban dan pelaku dalam mode pertahanan yang sangat manipulatif.
Akibatnya, saat menjadi orang tua, mereka mungkin:
- Kesulitan memahami perasaan anak
- Melihat tangisan sebagai kelemahan
- Melihat ketenangan dan kedamaian adalah hal yang tidak dapat memuaskan ego
- Menganggap perlawanan kecil sebagai ancaman terhadap otoritas
- Merespons stres dengan kontrol berlebihan
Ketika tekanan hidup datang, anak menjadi objek paling mudah untuk dilampiaskan. Bukan karena anak penyebabnya, tetapi karena anak adalah pihak yang paling lemah dalam struktur kekuasaan keluarga.
Pola Narsistik dalam Pengasuhan
Dalam konteks klinis, terdapat pola kepribadian yang disebut sebagai narsistik. Gangguan ini ditandai oleh kebutuhan akan kontrol, pengakuan, rasa superioritas, dan rendahnya empati pada orang lain. Namun perlu dan sangat penting ditegaskan bahwa tidak semua perilaku egois adalah gangguan kepribadian. Diagnosis hanya dapat dilakukan oleh profesional, Maka kita tidak dibenarkan untuk memberikan penilaian begitu saja pada pelaku. Namun pola narsistik dalam pengasuhan dapat terlihat dari ciri-cirinya seperti:
- Tidak pernah merasa salah
- Sulit atau tidak pernah meminta maaf
- Memanipulasi narasi agar selalu menjadi korban
- Menggunakan materi atau uang sebagai alat kontrol
- Menganggap anak sebagai perpanjangan ego, bukan individu yang otonom
- Tidak terlihat kasih dari mata dan gerak tubuhnya
Dalam relasi seperti ini, anak tidak dipandang sebagai pribadi memiliki kebutuhan emosional. Anak dipandang sebagai objek yang harus patuh, taat, tidak boleh membangkang, ikuti peraturan dan harus mengangkat citra orang tua atau memenuhi ekspektasi orang tua.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi secara jangka panjang, anak bisa tumbuh dengan:
- Harga diri yang rapuh
- Rasa bersalah kronis
- Ketakutan terhadap otoritas
- Kebingungan dalam memahami makna cinta
Anak belajar bahwa kasih sayang datang bersamaan dengan rasa takut dan tidak nyaman, kadang anak merasa bahwa cinta dan kasih sayang itu adalah mengontrol.
Trauma yang Tidak Disadari, Kekerasan yang Dibiasakan
Banyak orang tua yang tanpa sadar mengulang pola pengasuhan yang mereka alami dulu saat bersama orang tuanya, Kalimatseperti, “Saya dulu juga diperlakukan seperti itu dan baik-baik saja sampai sekarang”, sering menjadi pembenaran.
Padahal, secara psikologis, bertahan bukan berarti sembuh, trauma yang tidak diproses cenderung diwariskan kepada anak – anak. Inilah yang dikenal sebagai siklus trauma lintas generasi, luka yang tidak diakui akan berubah menjadi kekerasan yang dinormalisasi. Namun, pengalaman masa lalu bukanlah legitimasi untuk melukai masa depan anak.
Seruan untuk Refleksi Kolektif
Tragedi seperti yang menimpa Nizam Syafei (NS) seharusnya tidak berhenti pada simpati dan kemarahan publik tapi seharusnya ini dapat mendorong refleksi kolektif.
Sebelum memutuskan menikah atau memiliki anak, pertanyaan yang lebih penting bukanlah Apakah saya sudah cukup umur?” melainkan:
- Apakah saya mampu mengelola emosi saya saat tertekan ?
- Apakah saya bisa menerima kesalahan tanpa merasa harga diri saya hancur?
- Apakah saya mampu mencintai tanpa mengontrol?
Menjadi orang tua bukan hak otomatis saja, tapi juga adalah tanggung jawab psikologis yang menuntut kedewasaan emosional. Jika kita belum menyembuhkan luka kita sendiri, kita berisiko menjadikan anak sebagai ruang pelampiasan. Dan anak tidak pernah pantas menjadi tempat pelarian dari trauma orang dewasa.
RIP Nizam Syafei (NS).
Semoga tidak ada lagi anak yang harus membayar harga dari ketidakdewasaan emosional orang dewasa di sekitarnya.
Leave a comment