Family oriented – Mindset Perempuan

“The greatest act of love is to bring each other closer to Allah”

“Pernikahan itu indah jika kamu menemukan pasangan yang tepat, jika tidak.. kamu akan merasa selalu di situasi seperti Covid – 19.
..”Setiap hari kasus baru!”

Banyak anak – anak remaja yang terpuruk dan menyatakan bahwa ia adalah anak “broken home”, yang diakibatkan dari perceraian orang tuanya. Menurut saya sebenarnya frasa broken home hanyalah sebuah gaya bahasa atau majas metafora yang memberikan ungkapan pada anak – anak yang orang tuanya bercerai. Frasa ini hanya untuk membuat kalimat menjadi keren tapi sangat negatif, tidak semua anak gagal dan rusak dikarenakan orang tuanya bercerai. Tergantung dari mindset yang dipilih oleh anak dan cinta yang diberikan dari ayah atau ibunya walaupun mereka bercerai. Asalkan pasangan suami dan istri yang telah bercerai tidak saling menghambat pertemuan dan mendidik serta dapat berkomunikasi antara orang tua dan anak – anaknya.

Banyak contoh tokoh – tokoh besar memulai hidupnya dari keadaan tidak memiliki sosok Ayah (fatherless) atau sosok ibu (motherless) atau dikenal dengan orang tua yang tidak utuh, tetapi mereka berhasil dan membuktikannya pada Dunia bahwa broken home bukanlah label anak akibat perceraian.

“Broken home bukan rumah dengan satu orang tua, broken home adalah rumah yang tidak memiliki cinta”.

Sejak usia saya 26 tahun saya sudah menjadi seorang single mom dengan satu anak laki – laki yang sangat sempurna menurut saya dan saya sangat bersyukur sebagai ibu yang melahirkannya. Saya ditinggalkan oleh suami saya begitu saja untuk sebuah pilihan yang ia pilih tanpa kata – kata dan hanya selembar kertas yang menyatakan “pisah” saat anak kami berusia 1.5 tahun. Tidak ada yang ditinggalkan sebagai tanggung jawab kepada anak kami ini walau hanya satu koin uangpun atau benda sebagai bentuk harta yang dapat dijual. Buat saya itu tidak masalah tapi itu menjadi masalah dia dengan Allah. Dengan keadaan yang zero saat itu, saya bertekad untuk belajar berdamai dengan masalah yang saya hadapi dan tidak ingin meributkan tentang harta, uang atau tuntutan apapun karena saya sangat percaya dengan kebesaran Allah dan kemampuan saya untuk bekerja menghidupi anak yang ia tinggalkan.

Komitment saya adalah meninggalkan kesenangan saya pribadi dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan serta menjadi seorang ibu yang benar bukan hanya baik dan sekaligus menjadi bapak untuk anak laki – laki saya ini. Dalam perjalanan kehidupan yang saya jalani ternyata itu tidak mudah. Karena rekaman di otak saya sejak kecil yang saya lihat dalam lingkungan keluarga adalah kekerasan dan abuse mental tapi saya menyadari bahwa saya harus memprogram otak saya (reset) menjadi sebaliknya buat anak saya yaitu “kasih, kebijaksanaan, pengertian dan kelemah lembutan.”

Nature nya seorang perempuan membutuhkan perlindungan, tanggung jawab, dan dipimpin oleh laki – laki sebagai suaminya, kenyataannya hidup yang saya hadapi adalah harus melakukan sebaliknya sebagai single mom menjadi seorang ibu dan bapak untuk anak saya selama kurang lebih 20 tahun. Saya terus berlatih untuk memimpin diri saya sendiri sebelum saya memimpin anak saya. Saya berusaha semaksimal mungkin dengan cara nurture diri saya dengan pendidikan yang saya ambil melalui seminar tentang kepribadian, seminar tentang cara mendidik anak, membaca buku – buku psikologi, mendengarkan cerita teman – teman yang juga melewati nasib yang sama seperti saya untuk saya pahami, cerna dan pelajari.

Selain bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak, sayapun harus bekerja keras mengubah diri saya dari mulai perilaku, sikap sampai mindset saya agar saya dapat menabrak trauma dan ketakutan saya dengan frasa “broken home”, karena saya mau anak saya tidak ada dalam list anak anak yang melabelkan dirinya broken home.

Saya sangat memaknai sebuah kisah dua anak remaja kakak beradik yang masa kecil hingga remaja selalu melihat kekerasan dalam keluarganya, perkataan ayahnya selalu abuse mental kepada mereka, ayahnya sering memukuli ibunya, konflik selalu terjadi sampai akhirnya ayah dan ibunya bercerai. Ibunya memutuskan untuk bekerja keras agar bisa memenuhi kebutuhan sehari – hari kedua anak remajanya. Karena lelah dan stress berkepanjangan ibunya terkena strook dan kakak beradik ini menghadapi kekecewaan karena mereka tidak bisa meneruskan kuliah ke universitas yang mereka impikan.

Si kakak mulai memiliki perilaku jarang ada dirumah, selalu menyendiri, dan tidak pernah mau diajak makan bersama lagi dirumah. Sampai akhirnya polisi mendatangi rumah mereka dan menangkap si kakak karena tersangkut kasus narkoba.

Sementara si adik tetap pada mimpinya yaitu ingin masuk ke universitas, ia bertekad tidak akan memiliki keluarga atau menjadi seperti ayahnya, ia sering belajar tentang psikologi, Pengembangan karakter, komunikasi, tentang keluarga dengan hubungan yang sehat, dan ia mencoba beberapa usaha dengan berjualan online agar mendapatkan income dan tetap bisa kuliah sampai lulus.

Maka si kakak hidup dalam penjara, sementara si adik aktif dalam keseharian positifnya sampai lulus kuliah dan bekerja serta memiliki keluarga yang harmonis. Saat ditanya mengapa kalian berdua punya keputusan masing – masing. Si kakak menjawab “aku benci ayahku, ini semua karena ayahku, si adik juga menjawab “ya ini semua karena ayahku, aku membenci perlakuan ayah tapi aku tidak membenci dia dan aku tidak harus menjadi seperti dia. Aku putuskan rantai masa lalu keluargaku dan aku bekerja keras untuk membantu diriku sendiri, aku harus tetap kuliah sambil bekerja. Jawaban yang berbeda inilah yang membuat perbedaan hasil akhir hidup dari kakak dan si adik.

Setiap orang memiliki luka batin, luka masa lalu, traumatis, tapi pola pikir (mindset) kamulah yang menentukan kamu akan jadi apa dan siapa, kesalahan orang lain bukan alasan besar yang menjadikanmu dimasa depan. Pola hidup masa lalu kamu yang menyakiti dan mengecewakan bisa kamu putuskan rantainya sekarang juga, supaya kamu tidak hidup dalam pola yang sama lagi. Semua itu adalah pilihanmu !

Kamu bisa hidup dengan pola yang kamu pilih sendiri, yang benar dan terbaik untuk versi dirimu.

Getty image

Kamu tidak bisa memilih terlahir dari mana, dari keluarga yang kaya atau miskin tapi kamu bisa memilih jalan hidup untuk masa depanmu, agar kamu bisa memenangkan pertandingan dari masa lalumu yang membuatmu kecewa.

“Jangan lupakan masa lalu yang menyakitkan dan mengecewakan, tapi ingatlah untuk kamu pelajari dan ubah polanya agar kamu mendapatkan kebahagiaan yang sejati”

Posted in

Leave a comment