
Dari seorang teman saya menerima undangan untuk menjadi salah satu narasumber untuk program podcast bersama ibu Lucy Willar di icsl studio Jakarta http://www.instagram.com/icsl.studio/ dengan tema Life Journey. Saat saya menanyakan pembahasan life journey seperti apa yang harus saya sampaikan, dengan sedikit tegas tapi dihiasi senyuman beliau mengatakan “santai aja, kita ngobrol and tell about yourself”. Kebetulan saya suka sekali dengan frasa life journey, maka saya siap untuk menceritakan perjalanan hidup, mimpi dan legacy apa yang saya akan tinggalkan untuk dunia ini.
Perjalanan hidup semua orang tidak akan pernah ada yang sama persis dari awal hingga akhir, oleh sebab itu sangatlah menarik jika kita mendengarkan life journey dari masing – masing orang, dan jika kita mau menjadi pendengar setia tanpa menghakimi kita akan banyak belajar tentang kehidupan. Bagaimana serunya menjalankan kehidupan didunia dimana kita bisa menemukan dan melewati kesusahan tapi berujung dengan mendapatkan indahnya mujizat. Ada yang paling indah dalam hidup setelah kesusahan dan mujizat menurut saya, yaitu “hikmah, wisdom atau kebijaksanaan dan makna dari perjalanan hidup itu.”
Semua hal itu dibentuk oleh pengalaman – pengalaman yang kita alami baik itu positif atau negatif, kita harus menerima semua hal yang kita anggap tidak nyaman sekalipun tanpa banyak komplain karena dari situ kita akan menerima yang namanya mujizat, hikmah, wisdom atau kebijaksaan tadi. Perjalanan akan memberikan kita pengalaman yang namanya salah jalan, salah gang, salah titik lokasi, itu manusiawi. Prinsip saya bahwa salah atau benar jalan kita tapi kalau kita mengetahui tujuan kita mau kemana, kita akan diarahkan ketujuan tersebut.
Seperti saat kita menggunakan GPS, saat naik mobil, alat itu akan memberikan jalan baru (re – road) ketujuan kita kalau kita salah jalan, seru kan!! hanya masalah waktu dan pengalaman yang kita dapat saat tersesat itu saja yang berbeda. “Mungkin waktunya agak sedikit lambat tapi pengalaman yang kita dapat bisa jadi lebih banyak”
Achievement dan fulfillment
Seperempat perjalanan hidup saya, saya sangat merasakan semua kesuksesan yang dulu saya ingin raih jalannya dipermudah oleh Allah. Saya selalu bertanya dalam hati saya, 5 tahun lagi kamu mau jadi apa dan siapa ? Karena saya tahu hidup ini adalah sebuah perjalanan, saat itu jawaban saya adalah saya butuh achivement. Usia 20 tahun dimana seusia saya saat itu, disaat teman – teman saya masih berjuang mencari untuk mendapatkan posisi yang sudah saya miliki, tapi justru sebaliknya saya sudah mendapatkannya. Saya mendapatkan pekerjaan tanpa banyak hambatan dan sampai dititik kehidupan yang “uang bukan lagi sebuah masalah bagi saya.”
Apa yang saya mau semua saya bisa dapatkan, contohnya saja mengendarai mobil – mobil mewah gonta – ganti setiap harinya itu sudah saya pernah rasakan. Boleh dibilang sampai mobil yang diatas 6000CC pun saya sudah coba (kebetulan saya jual beli mobil mewah sih saat itu). Showroom memang bukan milik saya pribadi, tapi saya punya kesempatan untuk test drive setiap kali ada mobil yang datang, hahaha) tapi ini blessing kan.
Journey nya saya mendapatkan bonus dari Tuhan, tapi hakikatnya manusia kan kalau belum coba satu hal saja pasti kepengennya banyak yah, nah saya cobain semua mobil mewah itu saja sudah langsung puas. Jadi ngapain saya harus beli lagi, kalau tiap hari saya bisa coba cobi.
Saya belajar dari pengalaman ini, bahwa apa yang kita anggap excited, kerja keras mati – matian mau coba sesuatu atau punya sesuatu dan terjadi ya sudah jadinya seperti biasa saja, seperti nothing special.
Setiap minggu saya ada di posisi dimana kalau saya keluar Negri untuk shopping sesuka hati saya tanpa liat harga, beneran setiap minggu saya rasakan. dan banyak hal lagi kemudahan yang saya dapatkan. Tapi ada rasa yang kosong dalam diri saya (emptyness), entah apa yang membuat saya tidak bahagia di saat itu. Saya sudah punya semuanya, seperti diatas puncak kejayaan dalam ukuran saya, tapi saya tetap merasa seperti belum puas, masih ada yang saya cari entah apa saya tidak paham. saya seperti kehilangan arah, apa fungsi saya di Dunia, kenapa saya dilahirkan, mengapa saya bercerai dengan pasangan saya karena terlalu banyaknya penghianatan dan konflik. Saya merasa sendirian didunia ini di tengah banyaknya orang yang saya kenal, saya tidak pernah jahat kepada orang lain tapi kenapa orang lain begitu jahat terhadap saya, saya kecewa, marah, dan mengapa banyak guncangan dalam hidup saya.
Dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun saya menjalani hidup sebagai single mom untuk satu anak laki – laki saya tanpa peninggalan sepeserpun dari mantan suami saya. Dan pada akhirnya saya menyadari bahwa bukan hanya saya satu – satunya yang mengalami persoalan itu. Di Jakarta ini ternyata banyak sekali Perempuan yang berpisah tanpa peninggalan dari mantan suami sepeserpun. “buat perempuan yang independent hal itu terasa lebih berharga saya lepas dari kamu tanpa sepeser apapun daripada saya hidup tersiksa dengan kamu”.
Tekad saya harus kuat dan berkomitment untuk mau bekerja keras demi anak saya dari tangan dan keahlian yang saya punya. Dari pengalaman indah yang Tuhan berikan tentang kesuksesan saya, ternyata bekerja keras sebagai seorang janda itu tidak mudah. Dari mulai godaan dan direndahkan oleh lingkungan itu sangat berat sekali, maka untuk melindungi diri saya, saya memasang perisai kepada semua orang dengan cara saya mengatakan bahwa saya sudah memiliki suami, ini terjadi hampir 20 tahun, semua ini saya lakukan agar saya tidak mendapatkan godaan dan hal – hal lain yang saya tidak mau.
Tapi memasuki usia diatas 40 tahun, saya menyadari bahwa saya tidak bisa hidup sendiri, bukan masalah uang tapi faktor psikologis, sementara kalau di usia tersebut kita baru mau memilih untuk menikah lagi, pertanyaannya adalah siapa orang yang tepat ?
Banyak lingkungan saya mengatakan pilihannya adalah kalau bukan suami orang, duda atau berondong. Oh no way ! Bukan itu yang saya mau, “loh kenapa duda ga mau. Bukan saya ga mau, tapi saya observasi duda pun masalah nya banyak (traumatis yang menyebabkan mereka punya prinsip “ah just for fun aja deh).”
Di saat saya mau memilih pasangan untuk berikutnya, justru saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan. Banyak pertanyaan dalam diri saya mengapa, mengapa, mengapa….mengapa perempuan lain bisa, mengapa saya tidak. Akhirnya saya menemukan cara bagaimana saya bisa hidup Bahagia yaitu dengan cara “saya menemukan tujuan dan panggilan hidup saya.”
Tujuan hidup dan panggilan hidup
Tujuan hidup saya didunia ini adalah takut kepada Tuhan, melayani Tuhan dan menaati segala perintahNya. Saya banyak belajar bahwa untuk taat itu kita harus banyak diam, tenang, damai, agar kita bisa mendengar suara Nya. Sempat beberapa kali saya mengatakan perintah Tuhan itu kan menikah dan perbanyak keturunan agar semua yang dilahirkan menyembah Tuhan, tapi mengapa Tuhan tidak permudah saya untuk mendapatkan pasangan yang tepat. Akhirnya saat saya diam sambil minum air lemon dipagi hari saya seperti mendapat wisdom, “hi Mella, apakah pernikahan dalam hidupmu itu kehendak Tuhan atau hanya ego kamu saja untuk menginginkan pernikahan itu”.
Sangat benar sekali pernikahan memang perintahNya tetapi apakah saya sudah melakukan perintah – perintahNya yang lain, selain pernikahan. Ini yang harus saya temukan selain sebuah pernikahan, dimana pernikahan ini yang saya inginkan, ini hanya ego saya!.
Saya merenungi bahwa Rencana Nya bukan rencana kita itu benar sekali, janganlah kita memaksakan kehendak kita, dan memberilah maka kamu akan diberi, melayanilah kamu didunia ini bukan untuk dilayani, hampir 20 tahun saya observasi masalah rumah tangga dari pengalaman pribadi saya dan orang lain, saya mempelajari dari mengikuti seminar – seminar, membaca buku, sampai akhirnya saya diberi oleh Tuhan kesempatan menjadi pemimpin disalah satu Yayasan keluarga berbasis psikologi dari Amerika. Pada akhirnya saya bingung bagaimana saya mengimplementasikan nya karena saya tidak punya suami, saya berpikir proaktif saja apa yang saya bisa lakukan terlebih dahulu yaitu mengajar (karena saat kita mengajar pun kita sedang belajar), saya banyak mengajar secara offline dan online kepada banyak remaja dan ibu – ibu di pemberdayaan Perempuan. Saat saya melayani atau memberikan pelayanan masyarakat di titik – titik lokasi Jakarta, salah satunya adalah di rusun marunda Jakarta Utara.
Disana saya hampir setiap minggu mengajar anak – anak muda, dari mulai pengembangan diri, dance, drama, atau hanya sekedar bermain karet dan ngobrol sana sini ngalor ngidul dengan mereka. Disana saya banyak menemukan kelegaan hati, saya seperti menurunkan standar saya karena dari sinilah saya menemukan kebahagiaan sejati saya dimana saya bisa ada bersama mereka dan hidup dengan sangat sederhana.
“Fulfillment adalah perasaan saat manusia merasa “terpenuhi” hati dan jiwanya menjadi sebuah kepuasan dan kebahagiaan yang sejati sampai merasa saya bukan apa – apa selain harus melakukan ini sebagai panggilan hidup saya berada didunia ini” – Mella Noviani-
Didalam pelayanan Masyarakat inilah saya menemukan kebahagiaan, saya rela berkorban apapun (waktu, tenaga, materi) karena saya merasa Bahagia (joyful). Disinilah saya menemukan apa arti pemenuhan panggilan hidup (fulfillment). Banyak orang tidak percaya pada apa yang saya lakukan, pastinya ada pro dan kontra.
Ada yang bilang wah Mella luar biasa keren, ada juga yang mengatakan ngapain sih bodoh banget ke arah sana hidupnya, ih.. ga banget liatnya dan ada juga yang bilang pasti mau nyaleg yah, atau mau cari pencitraan. Saya siap dikatakan apapun sekalipun mereka mengatakan saya bodoh, prinsip saya bodoh dimata manusia itu tidak jadi masalah, tapi saya tahu ini bukan bodoh dimata Tuhan.
Akhirnya saya banyak mempelajari kehidupan, dari pengajaran Theologi dan Psikologi, saya banyak belajar dirumah tentang akhir tujuan hidup saya mau kemana, saya menentukan arah hidup saya dengan menuliskan mimpi – mimpi saya, dengan membuat mind mapping untuk hidup saya.
Dengan melakukan doa khusus setiap saat, saya menemukan wisdom bahwa “hidup ini bukan tentang saya, tapi tentang orang banyak”, bagaimana kita bisa menabur kasih, cinta, kedamaian untuk orang banyak. Dengan perjalanan hidup yang sudah saya jalani disetengah abad ini, saya memiliki mimpi untuk membuat “sekolah perempuan”, bagaimana saya bisa memberikan edukasi untuk persiapan menuju dunia pernikahan karena dalam pernikahanlah hidup sesungguhnya dimulai, peperangan kita untuk kita memenangkan pertandingan menuju kekekalan.
Banyak yang bertanya mengapa sekolah perempuan, mengapa bukan umum ? Apakah laki – laki tidak perlu belajar tentang pernikahan. Padahal sepertinya masalah perselingkuhan yang terkuak dimulai dari pihak laki – laki. Saya senang sekali dengan pertanyaan ini, jawaban saya adalah karena perempuan diciptakan Tuhan sangatlah stretegis, “perempuan dapat membangun istana atau meruntuhkan istananya” tergantung dari pola pikir nya (mindset) mengatur ritme keluarga menuju hubungan yang sehat.
Mimpi
Mimpi saya adalah mengurangi tingkat perceraian di Indonesia dengan cara menulis, mencetak buku tentang pernikahan, dan mempersiapkan learning centre (sekolah Perempuan) di tahun 2026 yang akan datang saya harap saya sudah bisa mulai untuk mempersiapkan remaja – remaja generasi 2045 masuk dalam dunia pernikahan yang benar, bukan hanya menikah tetapi “menikah dengan hubungan yang sehat, pre – marital (pra nikah)”. Mempersiapkan para millenial dimana mereka mengerti bukan hanya pernikahan coba – coba tapi fokus pada pernikahan dengan hubungan yang sehat, mempersiapkan perempuan – perempuan yang pernah gagal dalam pernikahan dan mau memulai kembali kehidupan rumah tangganya, serta mempersiapkan ibu – ibu untuk bisa mendidik anak – anaknya secara efektif.
Legacy
Saya berdoa semoga ini menjadi warisan (Amal jariah) saya untuk Indonesia, karena sebaik – baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Kehidupan didunia ini seluruhnya tentang bagaimana kita bisa memuliakan Allah dalam pikiran dan kehidupan, menjalankan perintah Nya, semua ini yang akan membuat manusia Bahagia lahir batin dan kita siap mempertanggung jawabkan di hari akhir kita nanti.
“Segala hal yang kamu lakukan untukmu akan hilang bersamamu, segala hal yang kamu lakukan untuk orang lain akan selalu ada sebagai legacy” Mella Noviani.
Leave a comment