
Delapan tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2017 saat saya terbang ke Colorado Springs (Cos) untuk mengikuti Family conference yang diadakan oleh sebuah yayasan keluarga dunia tempat dimana saya menjabat sebagai CEO selama 5 tahun untuk Indonesia. Saat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta saya duduk berhadapan dengan seorang ibu yang wajahnya terlihat sedih di ruang boarding. Saat masuk ke pesawat ternyata beliau duduk satu deret tepat disamping saya, dan sayapun langsung merasakan bahwa kami berdua adalah orang yang berkepribadian introvert. Karena di antara kami berdua tidak banyak bicara hanya saling melepas senyuman.
Setelah pesawat take off dengan sempurna dan bunyi ting terdengar, saya menyalakan lampu baca dan membuka buku yang masih harus saya baca yaitu when God doesn’t make sense. Sampai akhirnya pramugari menyapa bertanya kita berdua mau makan apa dan selanjutnya kami menikmati makan yang sudah disediakan. Ibu itupun menyapa saya dan berkata “kalau makan di pesawat gini, tanpa sambel jadi ga nafsu makan yah mba”. Dihati saya terlontar kalimat, “sepertinya bukan sambel deh bu yang buat ibu nggak nafsu makan tapi hati ibu yang sepertinya lagi sedih” akhirnya saya pun tersenyum dan tertawa kecil bilang ia benar bu, oh nama ibu siapa ? Akhirnya saya mengulurkan tangan dan ia menyebutkan namanya “oh nama saya Rosaline”.
Kami berdua mulai bercerita dari mulai tujuan mengapa terbang ke Colorado, keluarga dan pengalaman kami masing – masing. Ibu Rosaline bercerita Bahwa ia baru saja bercerai di usia pernikahan yang baru seumur jagung, ia bercerita ahhh…. Sambil menghela nafas panjang dan tangan kirinya memegang dada, ibu Rosalin mengatakan susah yah mba hidup ini cobaan berat banget dalam pernikahan itu, kalau bukan dari suami ya dari mertua atau bisa dari anak – anak.
Saya ini cobaan nya mertua mba, mantan suami saya sih tidak banyak masalah dan manut – manut aja orangnya, hanya saya tidak tahan dengan mantan mertua saya yang orang nya sulit sekali dan terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga saya.”
Saya baru saja bercerai dengan suami, karena suami saya lebih memilih orang tuanya daripada saya istrinya. Sambil ibu Rosaline bercerita panjang seperti biasa saya senang menikmati untuk menjadi pendengar setia. Buat saya jika ada yang bercerita tentang masalah kehidupan, rasanya saya ingin mencatat apa saja semua masalah yang ia ceritakan. Karena buat saya mendengarkan cerita masalah orang lain adalah seperti saya sedang menganalisa suatu makna kehidupan dan saya harus mendapatkan apa arti dari makna itu. Sampai akhirnya kami berpisah di airport Denver dan kami melanjutkan perjalanan kami masing – masing.
Didepan pintu keluar Denver International Airport, Jane teman saya sudah terlihat menjemput dan melambaikan tangannya dengan senyum hangat kepada saya, saat saya mendatanginya saya sudah siap dengan oleh – oleh yang saya beli dari Jakarta khusus untuk Jane. Saya membelikan Jane syall batik yang biasa orang Amerika suka menerimanya. Setiap saya datang ke Colorado Springs untuk mengikuti Conference, tradisi yang diajarkan adalah kami saling membawa oleh – oleh khas Negara masing – masing untuk setiap teman yang hadir dari beberapa Negara.
Dalam perjalanan dengan mobil dari Denver ke Colorado springs kurang lebih hampir 1 jam 25 menit, saya dan Jane banyak bercerita tentang pertemuan saya tadi dengan ibu Rosaline dan cerita hidupnya yang menikah singkat akhirnya bercerai karena tidak cocok dengan ibu mertuanya.
Jane menanggapi cerita saya dengan excited, ia menanggapi bahwa “laki – laki akan stress out kalau sudah dihadapkan harus memilih istri atau orang tua”. Ego dari seorang perempuan adalah ia ingin dipilih dan suami berkorban untuk istri. Tapi pada kenyataannya itu tidak bisa karena yang melahirkan suami kita adalah ibunya. Dalam pernikahan hati seorang ibu (mertua) merasakan mereka hanya tidak ingin kehilangan sosok dan perhatian dari anaknya yang ia pernah dapat dari masa kecilnya, saat anak laki – lakinya menikah dengan seorang perempuan yang menjadi istrinya maka ibu mulai banyak merasa ketakutan dalam hatinya. Ketakutan itu akan menjadi tindakan yang terasa akan sangat tidak nyaman pada setiap istri.
Saya sangat setuju dengan Jane, sejenak saya terdiam dan berdoa pada Tuhan saat itu jika Tuhan ijinkan saya memiliki ibu mertua dalam hidup saya, ya Tuhan saya minta seorang ibu mertua yang bisa get along dengan saya. Tapi saya berpikir dua kali bagaimana jika Tuhan beri saya cobaan saya mendapatkan ibu mertua yang tidak sesuai ekspektasi saya seperti kejadian ibu Rosaline. Kesimpulan dari saya diam sejenak saat itu adalah apapun karakter ibu mertua yang akan Tuhan berikan pada saya nanti, saya bertekat harus belajar dari sekarang bagaimana caranya saya bisa get along atau bisa menjadi teman dengan ibu mertua saya nanti.
Setelah pulang dari family conference, saya banyak belajar dan mendapatkan insight tentang bagaimana kita bisa memiliki hubungan yang sehat dengan pasangan, mertua, anak – anak, kakak dan adik ipar, serta keluarga besar dalam keluarga pasangan saya. Kuncinya adalah memiliki prinsip 4M seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya yaitu Memahami, Menghormati, Menerima dan Menghargai. “Tanpa Memahami kita tidak bisa Menghormati, tanpa menghormati kita sulit menerima, tanpa Menerima kita akan kehilangan rasa Menghargai.” semudah itukah ? mungkin banyak yang berpikir “ga mudah” tentu saja, tapi pastinya “semua akan menjadi mudah jika kita tau caranya.”
Menjalin hubungan yang baik dengan mertua bisa jadi sebuah tantangan yang banyak orang bilang tidak mudah, saya bisa bilang saya setuju tapi sekali lagi ingat “Jika kita tau caranya dan mau menurunkan ego kita, semua akan menjadi mudah”.. Istri dan mertua pastinya memiliki persepsi dan ego masing – masing, tetapi percayalah seperti terlihat sulit tapi mudah jika kita melakukan dengan pendekatan yang tepat, kamu bisa membangun hubungan yang hangat dan saling mendukung.
“Seorang ibu memberikan kamu hidup, seorang ibu mertua memberikanmu hidupnya”
Sebagai anak menantu (Daughter in law) saya memberikan beberapa cara atau strategi untuk membantu kamu menjadi teman yang dicintai ibu mertua :
Strategi Nomor 1 : Membangun komunikasi yang terbuka.
- Jujur dan terbuka dalam berkomunikasi adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat, cobalah untuk mendengarkan pandangan atau cerita mereka tanpa cepat menghakimi. Cari apa kesamaan (common ground) antara kamu dengan ibu mertua, apakah olahraga, memasak, dan lainnya. Jika kamu bisa menunjukkan minat pada kehidupan mertuamu itu dapat mempererat hubungan. Jika ada perbedaan hargai perbedaan itu, lakukan sesuatu yang kreatif agar perbedaan itu menjadi indah.
- Tanyakan tentang hidup mereka, tanyakan minat, hobi, atau pengalaman apa yang sudah mereka miliki, karena mertua pasti punya pengalaman hidup yang panjang, khususnya dalam membina rumah tangga atau mengurus keluarga, jadi cobalah lebih menyimak dan memahami karena banyak hal yang belum kita lihat atau jalani seperti yang mertua kita jalani. Dengan tertarik mau mendengar, memahami, mencerna, berinteraksi dengan hati dan ekspresi tanpa menghakimi Ini akan membuat mertua merasa dihargai dan lebih terbuka kepada kamu. Hormati nilai-nilai dan pandangan mertua, meskipun tidak selalu sejalan dengan kamu, ini menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang menghargai perbedaan dan tidak menganggap remeh pendapat mereka.
Strategi nomor 2 : Menunjukan Rasa dan pengertian terhadap pilihan hidup mereka.
- Saat berkunjung usahakan membawa oleh – oleh kecil, tidak harus mahal, membelikan apa yang menjadi kesukaannya adalah hal yang sangat luar biasa.
- Mengingat hari ulang tahunnya dan membuat perayaan kecil bersama keluarga.
- Untuk kamu yang memiliki aktifitas tinggi karena bekerja dan mengurus anak – anak atau bahkan kamu adalah seorang yang introvert memang menjadi tantangan tersendiri untuk bisa berkomunikasi setiap hari melalui telp ataupun whatsapp, tidak masalah tetapi bisa dikomunikasikan dengan mertua untuk kreatif memaksimalkan waktu, misal saja membuat janji di hari weekend untuk bersama – sama melakukan aktifitas keluarga.
- Tidak membandingkan cara mertua mengurus rumah dan keluarganya atau bagaimana mereka menjalani hidup selama ini, juga jangan pernah terburu-buru mengkritik cara mereka mendidik pasanganmu.
Strategi Nomor 3 : Autentik, jadilah Diri Sendiri
- Cobalah untuk menjadi diri sendiri, jangan mencoba untuk menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan hati mertua. Mertuamu akan lebih menghargai ketika kamu tampil authentic dan tidak berpura-pura.
Strategi nomor 4 : Create moment untuk bisa punya waktu bersama
- Ajak mertua untuk melakukan aktivitas bersama seperti makan siang, pergi berbelanja, atau menikmati hobi yang sama. Ini akan memberi kesempatan untuk saling mengenal lebih baik dalam suasana yang lebih santai.
- Berpartisipasi dalam acara keluarga. Tunjukkan bahwa kamu ingin menjadi bagian dari keluarga besar mereka, misalnya dengan ikut dalam perayaan ulang tahun, acara keluarga, ataupun hanya makan bersama.
Strategi nomor 5 : Berikan Perhatian pada Pasanganmu
- Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan hati mertua adalah dengan menunjukkan bahwa kamu mencintai dan menghargai pasanganmu. Jika mertua melihat kamu berkomitmen pada hubungan dengan anak mereka, ini akan memberi mereka rasa aman dan mendekatkan hubungan kalian. Hindari terlalu sering komplain tentang kekurangan pasanganmu.
- Jangan ragu untuk memberikan pujian yang tulus kepada pasanganmu di hadapan mertua. Ini akan menunjukkan bahwa kamu memperlakukan pasanganmu atau anak mereka dengan baik.
Strategi nomor 6 : Bersikap Sabar dan Mengerti
- Jika ada ketegangan atau kesalahpahaman, sabar dan beri waktu untuk hubungan bisa berkembang secara alami.
- Jangan terlalu cepat berharap bahwa hubungan akan menjadi akrab atau dekat secara instan. Proses hidup pasti akan memakan waktu, dan dengan kesabaran, kamu akan semakin dekat.
Strategi nomor 7 : Tunjukkan Kepedulian dan Bantuan
- Bantu mertua ketika mereka membutuhkan, bantu mereka jika butuh bantuan dalam pekerjaan rumah, belanja, atau hal-hal kecil lainnya. Tindakan kecil seperti ini dapat menunjukkan bahwa kamu peduli dan siap membantu.
- Beri perhatian pada kebutuhan mereka, jika kamu tahu mereka memiliki kesukaan atau kebutuhan tertentu, cobalah untuk memberi kejutan yang menyenangkan seperti makanan favorit mereka atau menawarkan untuk menghabiskan waktu bersama mereka.
Strategi nomor 8 : Jaga Batasan yang Sehat.
- Setiap hubungan memiliki batasan yang perlu dihormati. Jika ada hal-hal yang membuat kamu tidak nyaman atau ada perbedaan pandangan yang besar, jangan takut untuk mendiskusikannya dengan cara yang sopan dan santun.
- Pastikan untuk tetap menjaga batasan yang sehat dalam interaksi dengan mertua, terutama terkait dengan masalah pribadi yang mungkin lebih sensitif.

Membangun hubungan yang baik dengan mertua memerlukan waktu dan usaha dari kedua belah pihak. Dengan sikap yang positif, penuh pengertian, dan komunikasi yang baik, kamu bisa membangun hubungan yang lebih erat dan bersahabat dengan ibu mertua.
Leave a comment