RANTAI KEBAHAGIAAN
Biasanya anak kecil selalu memikirkan hal – hal yang membuat dia senang, tapi tidak pada saya saat saya menjadi anak kecil. Saat kecil meranjak dewasa disaat semua teman – teman saya janjian pergi main sepatu roda saya justru mencari alam dan diam berpikir. Kalau teman saya bilang saat itu saya “semedi” membuat saya senyum jika saya mengingat kenangan itu. Sering saya berjalan sendirian berpikir kenapa saya serumit ini harus selalu memikirkan untuk apa saya ada didunia ini, mengapa begini dan mengapa begitu. Kenapa saya tidak seperti teman – teman saya yang easy going dan fokus bahagia bermain. Berapa banyak saya melihat dengan mata kepala saya sendiri masalah keluarga dari teman – teman, tetangga bahkan keluarga saya sendiri. Saya berpikir apa sih jawaban dalam mencari kebahagiaan didalam rumah sebenarnya ?
Sejak saat itu saya sering kritis bertanya pada teman – teman saya, apa arti kebahagiaan dalam rumah untuk kamu ? jawaban mereka semua berbeda membuat saya sebagai remaja bingung dan semakin saya tidak menemukan arti kebeahagiaan itu sendiri. Sampai saya dewasa, menjalani rumah tangga dan gagal, sayapun masih bertanya – tanya apa arti kebahagiaan. Sampai saya flashback kembali pada anak – anak remaja jaman NOW, apa arti kebahagaiaan dalam keluarga atau pernikahan menurut mereka. Setelah saya merangkum hasil dari banyaknya jawaban mereka, akhirnya saya mendapatkan rangkuman sebuah frasa yaitu “Rantai kebahagiaan”.
Mereka bilang rantai kebahagiaan itu diawali dengan cinta, kemudian masuk fase pernikahan dengan mimpi sebuah perayaan pernikahan yang dimulai dari lamaran sampai acara besar digedung mewah. Kemudian dilanjutkan dengan kehadiran bayi yang lucu dalam hidup mereka dan mereka mempersiapkan bayi itu menjadi anak – anak yang harus mendapatkan pendidikan tinggi, bahkan harus lebih tinggi dari mereka sebagai orang tua. Dan terakhir mereka berdoa mendapatkan menantu yang bisa membahagiakan anak – anak mereka agar tidak susah seperti mereka sebagai orang tuanya.”
Inilah gambaran kebahagiaan atau sebuah blueprint kehidupan keluarga yang bahagia dan sukses. Fakta nya didalam berjalan nya “Rantai kebahagiaan” ini, para suami istri banyak menghabiskan waktu dengan banyak stress, konflik dan kasus – kasus dalam perjalanan rumah tangganya. Mereka berupaya mempertahankan hubungan demi anak – anak tidak kecewa dan status “keluarga yang utuh” tetap ada bukan sebaliknya berusaha untuk berupaya memiliki hubungan yang sehat. Pertahanan mereka banyak yang gagal karena hal itu hanya seperti bomb waktu yang akhirnya pasangan suami istri tidak tahan akhirnya berpisah atau bercerai bahkan sebelum rantai kebahagiaan itu berakhir yaitu di fase anak – anaknya mendapatkan menantu.
Pendapat saya bahwa “pernikahan adalah landasan ideal sebuah keluarga yang dirancang Allah”. Itulah sebabnya – seharusnya dalam pernikahan yang menjadi prioritas suami istri adalah “kesehatan hubungan mereka” (Health Relationship) diatas semua rangkaian mimpi atau “Rantai kebahagiaan” tadi atau status “keluarga yang utuh”.
Tidak sedikit dari pasangan suami istri yang sampai sekarang mereka masih memperjuangkan pernikahannya tetapi saat saya bertanya apa goal nya, kebanyakan jawaban yang saya dengar adalah “bertahan demi anak – anak”. Pasangan suami istri hidup berumah tangga hanya menjadi ayah dan ibu dihadapan anak – anaknya tapi bukan hidup sebagai suami istri yang utuh dan dengan hubungan yang sehat”.
Dari semua inilah saya mempelajari dengan sangat keras teori dan praktek untuk mendapatkan arti atau makna dari apa yang dinamakan dengan pernikahan dengan hubungan yang sehat, dan apakah “rantai kebahagiaan” dalam keluarga itu benar – benar membuat keluarga bahagia ? Ternyata dari banyak kasus yang saya pernah tangani dan kasus yang merebak diluar sana bahwa sesungguhnya “pernikahan dengan hubungan yang sehatlah yang membuat keluarga bahagia lahir dan batin”.
Saya memiliki mimpi untuk menciptakan sebuah program yang dapat membuat perempuan bisa memiliki mindset yang benar agar dapat melindungi diri dan mendapatkan mental yang sehat dalam kehidupan pernikahannya.

“Pernikahan membutuhkan cinta dengan ribuan pertimbangan dan pengertian tanpa penghakiman”.
MellaNoviani #MindsetPerempuan
Selamat membaca tulisan yang saya tulis, semoga saya dapat berkontribusi untuk membuat perempuan dengan mindset yang sehat dan mendapatkan pernikahan dengan hubungan yang sehat.
“Sakinah – Mawaddah – Warohmah”
Leave a comment